
KEDIRI, Tandaglobal.news — Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memudahkan siswa mencari informasi dan menyelesaikan tugas. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan bagi dunia pendidikan, terutama ketika siswa terlalu bergantung pada jawaban instan tanpa memahami prosesnya.
Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan Diseminasi ToT PGRI Power bertema Transformasi Pendidikan melalui AI dan Coding di SMK Negeri 1 Plosoklaten, Kabupaten Kediri, Rabu (21/10/2026).
Pengurus PGRI Plosoklaten, Hari Suyanto, menilai dampak AI terhadap kebiasaan belajar siswa bergantung pada cara mereka memanfaatkan teknologi tersebut.
Sebagian siswa tetap aktif membaca dan memperdalam materi, sedangkan sebagian lainnya berisiko mengandalkan AI tanpa berusaha memahami jawaban yang diperoleh.
“Kalau anak memang memiliki kemauan belajar, mereka tetap akan membaca dan menambah ilmu. Tetapi, kalau hanya mengandalkan AI untuk mendapatkan jawaban secara instan, setelah dibaca bisa saja langsung lupa,” jelas Hari.
Menurutnya, perbedaan kebiasaan belajar tersebut dapat dilihat dari cara siswa mengerjakan tugas.
Siswa yang memahami materi biasanya mampu menjelaskan tahapan penyelesaian soal, sedangkan mereka yang hanya menyalin jawaban kerap kesulitan ketika diminta menerangkan prosesnya.
“Anak yang memahami materi biasanya bisa menjelaskan langkah-langkah pengerjaan. Kalau hanya menuliskan hasil akhirnya, ketika ditanya prosesnya belum tentu bisa menjawab,” tambahnya.
Hari mencontohkan pengerjaan soal matematika.
Siswa mungkin dapat menuliskan hasil akhir dengan benar, tetapi belum tentu mampu menjelaskan rumus dan langkah-langkah yang digunakan untuk memperoleh jawaban tersebut.
Karena itu, ia menilai pemanfaatan AI perlu diimbangi dengan kebiasaan membaca, latihan mengerjakan soal secara mandiri, dan kemampuan berpikir kritis.
Teknologi sebaiknya menjadi alat bantu belajar, bukan satu-satunya sandaran siswa dalam memahami materi.
Ketua PGRI Cabang Plosoklaten, Sudarsih, juga menekankan pentingnya kemampuan guru mengikuti perkembangan teknologi.
Menurutnya, penguasaan AI dan coding diperlukan agar pendidik dapat menyesuaikan proses pembelajaran dengan perkembangan zaman.
“Guru harus mengikuti perkembangan zaman. Kalau menguasai teknologi, guru bisa menyesuaikan diri dan membantu proses pembelajaran menjadi lebih baik,” kata Sudarsih.
Ia berharap guru yang telah mengikuti pelatihan dapat membagikan pengetahuan tersebut kepada rekan sejawat di sekolah masing-masing.
Dengan demikian, pemanfaatan teknologi dapat dipahami dan diterapkan oleh lebih banyak pendidik.
Sementara itu, dua siswi SMK Negeri 1 Plosoklaten, Vira dan Renata, menilai AI dapat membantu kelancaran pembelajaran sehari-hari.
Meski demikian, keduanya juga melihat adanya risiko ketika siswa terlalu sering mengandalkan teknologi tersebut.
Menurut Vira, AI dapat membantu siswa memperoleh informasi atau penjelasan tambahan untuk memahami pelajaran.
Namun, penggunaannya tetap perlu dibatasi agar siswa tidak kehilangan kebiasaan berpikir mandiri.
“AI memang membantu pembelajaran sehari-hari, tetapi penggunaannya harus bijak dan jangan sampai membuat siswa selalu bergantung pada teknologi,” ujar Vira.
Renata menilai setiap siswa memiliki kebiasaan belajar yang berbeda.
Ada siswa yang terus mengandalkan AI untuk mengerjakan tugas, tetapi ada pula yang tetap berusaha mencari jawaban dan memahami materi secara mandiri.
“Harapannya, AI bisa semakin bermanfaat untuk belajar. Siswa tetap harus berusaha memahami materi sendiri, bukan hanya mengandalkan jawaban dari AI,” ungkap Renata.
Melalui penguatan kompetensi guru dalam pemanfaatan AI, sekolah diharapkan mampu membimbing siswa menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Verifikasi informasi melalui buku pelajaran, modul, dan sumber tepercaya tetap diperlukan agar siswa tidak sekadar memperoleh jawaban, tetapi juga memahami materi yang dipelajari.



















Tinggalkan Balasan