KEDIRI, Tandaglobal.news — Pergerakan harga bawang merah dan bawang putih menjadi perhatian pedagang di Pasar Induk Pare, Kabupaten Kediri. Di tengah daya beli masyarakat yang dirasakan belum bergairah, pedagang harus cermat menentukan harga jual agar tetap mampu bersaing dan menjaga kelangsungan usaha.

Siti Munawaroh (67), salah satu pedagang di Pasar Induk Pare, mengatakan harga bawang merah mengalami kenaikan dibandingkan sebelumnya.

Harga yang semula berkisar Rp20 ribu kini naik menjadi Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram.

“Kenaikan bawang merah memang belum terlalu tinggi, tetapi kalau pasokan hasil panen terus berkurang, harganya masih bisa naik lagi,” ujar Siti Munawaroh saat ditemui di Pasar Induk Pare, Kamis (15/10/2026).

Sementara itu, harga bawang putih cenderung stabil dan relatif turun.

Menurut Siti, kondisi tersebut berbeda dengan bawang merah yang berpotensi mengalami kenaikan akibat berkurangnya pasokan panen.

“Kalau bawang putih sekarang cenderung stabil. Stok barang juga masih tersedia, tetapi pembeli tetap harus diperhatikan karena kondisi pasar tidak selalu ramai,” jelasnya.

Bawang putih yang dijual pedagang berasal dari barang impor. Pedagang kecil biasanya memperoleh pasokan melalui agen atau pemasok, termasuk dari Surabaya.

Pengiriman dilakukan sesuai kebutuhan pedagang, sedangkan stok di tingkat pedagang saat ini disebut masih mencukupi.

Selain pergerakan harga komoditas, persaingan antarpedagang turut menjadi tantangan dalam menjalankan usaha. Wiwik, pedagang di Pasar Induk Pare, mengatakan pedagang harus cermat mengikuti perkembangan harga agar tetap mampu bersaing dengan penjual lainnya.

“Sekarang persaingan antarpedagang cukup ketat. Kami harus melihat harga pasaran supaya harga jual tidak terlalu tinggi dibandingkan pedagang lain,” ungkap Wiwik.

Menurutnya, keberadaan pedagang baru membuat persaingan harga semakin terasa. Pedagang perlu mempertimbangkan harga kulakan dan kondisi pasar sebelum menentukan harga jual agar usaha tetap berjalan.

“Kalau harga berubah, tidak bisa langsung mengambil keputusan. Perlu diamati dulu perkembangannya, biasanya sekitar satu minggu, baru bisa melihat kecenderungan harga berikutnya,” tambahnya.

Di sisi lain, daya beli masyarakat yang dirasakan agak lesu membuat pedagang harus lebih berhati-hati dalam menentukan strategi penjualan. Ketersediaan stok yang cukup belum tentu berbanding lurus dengan ramainya pembeli.

Siti Munawaroh dan Wiwik berharap kondisi perdagangan ke depan semakin baik, dengan harga komoditas yang lebih stabil dan aktivitas jual beli yang kembali bergairah. Dengan demikian, pedagang dapat mempertahankan usahanya di tengah persaingan yang semakin ketat.