
KEDIRI, Tandaglobal.news — Sendang Tirto Kamandanu yang berada di Dusun Menang, Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, menjadi salah satu situs bersejarah yang menyimpan kisah tentang Sri Aji Jayabaya, raja Kerajaan Kediri yang dikenal dalam sejarah Jawa.
Hingga kini, situs tersebut terus dilestarikan dan menjadi tempat masyarakat mengenal sejarah serta tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Sendang Tirto Kamandanu berjarak sekitar 200 meter dari petilasan yang diyakini sebagai tempat moksa Sri Aji Jayabaya. Keberadaan sendang ini berkaitan dengan cerita sejarah dan kepercayaan masyarakat mengenai perjalanan sang raja pada masa Kerajaan Kediri.
Juru kunci Sendang Tirto Kamandanu, Mbah Sempu, menjelaskan bahwa kawasan tersebut dahulu dikenal dengan nama Sendang Buntung atau Kali Buntung.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, tempat itu berkaitan dengan Sri Aji Jayabaya yang konon melakukan semadi atau bertapa di kawasan tersebut.
“Dahulu tempat ini dikenal sebagai Sendang Buntung atau Kali Buntung. Kawasan ini memiliki kaitan dengan cerita Sri Aji Jayabaya yang melakukan semadi,” jelas Mbah Sempu saat ditemui pada Sabtu (10/10/2026).
Seiring berjalannya waktu, sendang tersebut disebut pernah dikenal dengan nama Kolosonyo.
Pada 1980, kawasan ini dipugar atas prakarsa Yayasan Hondodento Yogyakarta dengan dukungan masyarakat. Setelah pemugaran, tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama Sendang Tirto Kamandanu.
Nama Tirto Kamandanu memiliki makna yang berkaitan dengan sumber air kehidupan. Sendang berarti kolam atau sumber air alami, sedangkan tirto berarti air.
Nama tersebut menggambarkan keberadaan sendang sebagai sumber air yang bermanfaat bagi kehidupan.

Dalam tradisi setempat, Sendang Tirto Kamandanu dikenal sebagai patirtan, yakni tempat sumber air yang dianggap suci. Kawasan ini juga dipercaya memiliki hubungan dengan kehidupan Sri Aji Jayabaya.
Kisah tersebut terus diwariskan melalui penuturan masyarakat dan keberadaan situs yang masih terjaga hingga sekarang.
Selain menyimpan nilai sejarah, sendang ini juga dikunjungi masyarakat untuk berbagai keperluan sesuai keyakinan masing-masing. Sebagian pengunjung datang untuk membasuh tangan dan kaki, mandi, maupun mengambil air untuk dibawa pulang.
Salah satu tradisi yang berkaitan dengan Sendang Tirto Kamandanu dilaksanakan setiap 1 Muharam atau 1 Sura dalam penanggalan Jawa. Pada momentum tersebut, biasanya digelar upacara adat yang melibatkan Yayasan Hondodento Yogyakarta, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Rangkaian kegiatan diawali dengan doa bersama di Balai Desa Menang, kemudian dilanjutkan dengan kirab menuju petilasan Sri Aji Jayabaya. Para peserta mengenakan busana Jawa dan membawa perlengkapan upacara.
Prosesi di petilasan meliputi tabur bunga, penyemayaman pusaka menurut tradisi setempat, serta doa bersama.
Rangkaian kegiatan kemudian berakhir di Sendang Tirto Kamandanu. Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk mengenang Sri Aji Jayabaya sekaligus mempertahankan warisan budaya yang masih dijalankan hingga kini.
Mbah Sempu berharap keberadaan Sendang Tirto Kamandanu terus dijaga agar sejarah dan tradisi yang melekat pada situs tersebut dapat dikenal oleh generasi muda.
“Harapannya, generasi muda semakin mengenal sejarah Sendang Tirto Kamandanu dan Sri Aji Jayabaya, sehingga peninggalan serta tradisi di sini tetap terjaga,” tambahnya.
Keberadaan Sendang Tirto Kamandanu menunjukkan bahwa warisan sejarah tidak hanya tersimpan dalam catatan, tetapi juga hidup melalui situs, cerita masyarakat, dan tradisi yang terus dilestarikan. Menjaga kawasan ini menjadi bagian penting dalam mempertahankan kekayaan sejarah dan budaya Kabupaten Kediri.



















Tinggalkan Balasan