BANTUL, Tandaglobal.news — Pabrik Gula dan Spiritus Madukismo merupakan salah satu industri bersejarah di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berlokasi di Tirtonirmolo, Kasihan, Kabupaten Bantul, pabrik ini memiliki peran penting dalam perkembangan industri gula, perekonomian masyarakat, serta pembangunan industri nasional setelah Indonesia merdeka.
Berbeda dengan sejumlah pabrik gula peninggalan kolonial yang berhenti beroperasi, Madukismo berkembang setelah kemerdekaan sebagai bagian dari upaya membangun kembali industri gula di Indonesia.
Awal Berdirinya Madukismo
Sejarah Madukismo berkaitan erat dengan Pabrik Gula Padokan yang berdiri pada masa kolonial Belanda. Pabrik tersebut mengalami kehancuran pada masa pergolakan menjelang dan setelah kemerdekaan, sehingga para pekerjanya kehilangan mata pencaharian.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX kemudian menggagas pembangunan kembali industri gula di Yogyakarta. Langkah ini tidak hanya bertujuan menghidupkan kegiatan produksi, tetapi juga membuka lapangan kerja dan mendorong perekonomian masyarakat.
Perusahaan yang menaungi pabrik tersebut didirikan pada 14 Juni 1955 dengan nama Pabrik-Pabrik Gula Madubaru PT atau P2G Madubaru PT. Pembangunannya dilakukan di bekas lokasi Pabrik Gula Padokan, tepatnya di wilayah Padokan, Tirtonirmolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Diresmikan Presiden Soekarno
Pembangunan pabrik berlangsung sejak pertengahan 1955 dan selesai pada 1958. Berdasarkan catatan sejarah dalam biografi Sri Sultan Hamengku Buwono IX, pembangunan ditandai dengan peletakan batu terakhir pada 31 Maret 1958.
Presiden Soekarno kemudian meresmikan Pabrik Gula Madukismo pada 29 Mei 1958. Peresmian tersebut menjadi salah satu tonggak pembangunan industri nasional sekaligus upaya memulihkan kegiatan ekonomi di Yogyakarta setelah masa perang.
Sejak awal, perusahaan memiliki dua unit usaha utama, yakni Pabrik Gula Madukismo dan Pabrik Alkohol atau Spiritus Madukismo. Keduanya menjadi bagian dari kegiatan industri PT Madubaru.
Perkembangan dan Perubahan Status Perusahaan
Pada awal berdiri, kepemilikan saham perusahaan terdiri atas 75 persen milik Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan 25 persen milik pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Pertanian.
Pada 1962, mengikuti kebijakan pemerintah dalam pengambilalihan sejumlah perusahaan, Madubaru bergabung dengan perusahaan negara di bawah Badan Pimpinan Umum Perusahaan Negara Perkebunan (BPU-PPN). Empat tahun kemudian, tepatnya pada 1966, perusahaan kembali berstatus swasta dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX sebagai presiden direktur.
Perubahan berikutnya terjadi pada 1984, ketika PT Madubaru menjalin kontrak manajemen dengan PT Rajawali Nusantara Indonesia. Berdasarkan riwayat perusahaan, sejak 24 Februari 2004 PT Madubaru kembali dikelola secara mandiri dan profesional.
Dalam struktur kepemilikan yang dicantumkan perusahaan, saham terbagi atas 65 persen milik Sri Sultan Hamengku Buwono X dan 35 persen milik pemerintah yang dikuasakan kepada PT Rajawali Nusantara Indonesia.
Peran Industri Gula dan Spiritus
Madukismo tidak hanya memproduksi gula pasir. Unit alkohol dan spiritus juga menjadi bagian penting dari kegiatan industrinya. Keberadaan kedua unit tersebut menjadikan Madukismo sebagai industri agro yang mengolah hasil pertanian sekaligus menghasilkan produk untuk kebutuhan industri.
Dalam kegiatan produksi gula, perusahaan menjalin kemitraan dengan petani tebu. Pasokan tebu menjadi salah satu faktor penting yang menentukan keberlangsungan produksi. Kemitraan dengan petani dan pengembangan usaha juga menjadi bagian dari upaya membangun industri agro yang berkelanjutan.
Madukismo sebagai Warisan Sejarah Industri
Selain menjalankan kegiatan produksi, Madukismo menyimpan nilai sejarah pembangunan ekonomi Indonesia setelah kemerdekaan. Pabrik ini menjadi saksi upaya Sri Sultan Hamengku Buwono IX membangun kembali industri gula sekaligus menyediakan kesempatan kerja bagi masyarakat.
Madukismo juga mengembangkan agrowisata yang diperkenalkan kepada masyarakat sejak 17 April 1993. Pengembangannya bersamaan dengan peresmian Gedung Aula Madu Candhya oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X.
Melalui kegiatan agrowisata tersebut, masyarakat dapat mengenal proses produksi gula dan alkohol serta melihat langsung lingkungan industri Madukismo.
Hingga kini, Pabrik Gula dan Spiritus Madukismo menjadi bagian penting dari sejarah industri Yogyakarta. Perjalanannya menunjukkan bagaimana kawasan bekas pabrik kolonial dibangun kembali menjadi industri nasional yang berkontribusi terhadap produksi gula, penyerapan tenaga kerja, dan perkembangan ekonomi daerah.



















Tinggalkan Balasan