KEDIRI, Tandaglobal.news — Bayangan mencekam tentang maut yang mengintai di tengah gelapnya perairan Kalimantan masih terekam jelas dalam ingatan Irwan Mujiono. Warga Desa Sumberejo, Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, ini merupakan satu dari sejumlah penumpang yang berhasil selamat dari tragedi tenggelamnya Kapal Virgo 8 pada Minggu, 13 September dini hari.

Bagi Irwan, malam itu menjadi batas tipis antara hidup dan mati.

Tragedi tersebut merenggut nyawa banyak penumpang dan memisahkannya dari rekan kerja, Aris, yang hingga kini belum ditemukan.

Perjalanan yang bermula dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Sabtu pukul 10.00 WIB awalnya terasa biasa saja.

Irwan yang berprofesi sebagai sopir truk membawa muatan suku cadang kendaraan menuju Buntok, Kalimantan Tengah, bersama rekannya, Aris.

Cuaca saat itu dilaporkan cerah dengan bintang yang masih terlihat jelas.

Namun, firasat buruk mulai terasa ketika jam menunjukkan pukul 19.00 WIB.

Kapal mulai bergoyang hebat akibat hantaman ombak besar, meski angin belum terasa kencang.

Puncaknya terjadi sekitar pukul 01.00 hingga 01.30 dini hari WITA.

Saat sebagian besar penumpang terlelap, malapetaka itu datang tanpa peringatan.

“Saya sudah enggak tahu lagi jam 1 atau jam 1 lebih itu ada orang dari luar lari ke dalam, ‘Kapale miring, kapale miring!’ gitu. Jadi orang-orang yang di dalam itu semua panik, Mas. Antara percaya enggak percaya, yang orang lagi tidur kan biasanya bengong gini dulu. Tapi korden itu sudah ke kiri semua,” ungkap Irwan dengan nada bergetar saat menceritakan detik-detik menegangkan tersebut.

Fakta paling mengejutkan dari tragedi ini adalah absennya sistem peringatan dini dan peran kru kapal.

Tidak ada sirene darurat yang memecah keheningan malam, tidak ada panduan evakuasi, dan listrik seketika padam total.

Kepanikan pecah di setiap sudut kapal. Penumpang berlarian mencari jalan keluar dalam kegelapan mutlak dan berjuang menyelamatkan diri masing-masing.

Di tengah kekacauan, Irwan masih sempat memberikan pelampung kepada Aris sebelum kapal benar-benar kehilangan keseimbangan.

“Di situ tidak ada alarm, tidak ada pemberitahuan, tidak ada apapun. Itu kalau dari luar enggak ada orang yang masuk, kira-kira saya juga sudah off. Itu kejadiannya 15 menit tidak ada, Mas, cepat. Begitu kapal miring terus masuk gini, sudah 90 derajat mau kebalik, lampu mati semua. Orang itu semua takbir, Mas. Ya pokoknya nyawa saya aja pucuk itu sudah. Saya sebut semua keluarga saya, termasuk almarhum ibu saya,” kenang Irwan.

Tidak ada kru yang memandu evakuasi atau membagikan jaket keselamatan.

Irwan dan sesama sopir berinisiatif membongkar kotak penyimpanan pelampung yang kebetulan tidak terkunci.

Di tengah kemiringan ekstrem, suara rintihan dan tangisan mencari anggota keluarga menggema di udara, namun tertelan oleh suara gemuruh air laut yang mulai masuk membanjiri dek demi dek.

Klakson kapal sempat berbunyi pendek, terdengar seperti kehabisan angin, tepat sebelum kapal nahas itu terbalik.

Irwan berhasil melompat keluar sesaat setelah dinding kapal pecah.

Ia berenang sekuat tenaga menjauhi bangkai kapal untuk menghindari pusaran air yang menyedot ke dasar laut.

Di tengah lautan gelap dengan ombak yang terus menghantam, ia bertahan hidup dengan cara yang tak terbayangkan.

Ia menghindari tabung gas las yang terombang-ambing, lalu berpegangan pada galon kosong sekadar untuk mengatur napas.