Sekitar 15 menit berselang, dalam kondisi tubuh berlumuran solar, Irwan ditarik ke atas sebuah sekoci karet tanpa mesin oleh sesama penumpang yang selamat asal NTT bernama Henius.

Di dalam sekoci itu, ia bersama lima orang lainnya terombang-ambing pasrah tanpa kepastian.

Penantian panjang di tengah lautan lepas itu baru berakhir pada keesokan harinya pukul 10.00 pagi.

Mereka diselamatkan oleh Kapal Motor (KM) Cahaya Bahari Jaya, sebuah kapal nelayan asal Juwana, Jawa Tengah.

Mereka kemudian dievakuasi ke kapal TNI KM Nala dan dibawa menggunakan speedboat menuju Banjarmasin untuk mendapatkan perawatan intensif.

Meski nyawanya selamat, tragedi ini meninggalkan duka mendalam dan kerugian besar.

Truk beserta muatan suku cadang berharga fantastis, uang tunai, dan seluruh barang pribadinya tenggelam di dasar laut.

Pihak perusahaan pelayaran Virgo dan Gubernur Kalimantan Selatan masing-masing telah memberikan santunan sebesar Rp5 juta.

Namun, tidak ada nominal yang mampu menggantikan rasa kehilangan atas hilangnya Aris, rekan kerjanya yang masih berstatus hilang.

Saat ditanya apakah kejadian ini membuatnya trauma untuk kembali melaut, Irwan memberikan jawaban yang menggambarkan realitas kehidupan para pekerja lapangan.

“Kalau dari keluarga pribadi sudah ngelarang, sudah kayak enggak boleh gitu nyebrang. Teman-teman juga gitu, ‘Wah, aku karo ibuku wis gak oleh nyebrang.’ Tapi kalau tuntutan kerja ya gimana lagi gitu loh, Mas. Enggak mikir kerugian materi lagi, yang penting nyawa,” ungkap Irwan.