KEDIRI, Tandaglobal.news — Usaha produksi tape singkong di Dusun Krajan Kidul, Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, menghadapi kendala pasokan bahan baku akibat kemarau panjang. Kondisi tersebut membuat sejumlah pengrajin terpaksa menghentikan produksi sementara, meskipun permintaan dan pemasaran tape masih berjalan baik.

Ahmad Nasir (57), salah satu pengrajin tape di kawasan tersebut, mengatakan keterlambatan pasokan singkong menjadi persoalan utama yang dihadapi para pelaku usaha.

Selain sulit diperoleh, harga bahan baku juga mengalami kenaikan sehingga menyulitkan pengrajin mempertahankan kegiatan produksi seperti biasanya.

“Kalau masalah penjualan lancar, tetapi untuk bahan bakunya sekarang sedang terlambat. Mungkin karena musim panas dan harganya juga mahal,” ujar Ahmad Nasir saat ditemui, Jumat (9/10/2026).

Selama ini, kebutuhan singkong dipenuhi melalui agen yang mendatangkan bahan baku dari luar daerah. Dalam kondisi normal, pasokan singkong yang masuk bisa mencapai sekitar 5 hingga 6 ton per hari untuk memenuhi kebutuhan para pengrajin.

Namun, saat ini pasokan tersebut mengalami keterlambatan. Ahmad menyebut kegiatan produksi di lingkungannya bahkan terpaksa berhenti sementara karena bahan baku belum tersedia.

“Sudah sekitar seminggu ini terlambat. Kemungkinan bahan baku baru datang lagi dua atau tiga minggu ke depan. Jadi, untuk sekarang terpaksa libur karena bahan mentahnya tidak ada,” katanya.

Ahmad menjelaskan, kondisi tersebut berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya ketika pasokan singkong relatif lancar.

Ia menduga kemarau panjang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ketersediaan bahan baku, meskipun penyebab pastinya masih perlu dipastikan.

Terhentinya produksi menjadi tantangan bagi para pengrajin yang menggantungkan penghasilan dari usaha pengolahan singkong menjadi tape.

Padahal, pemasaran produk masih berjalan baik dan telah menjangkau sejumlah pasar di Kediri maupun daerah sekitarnya.

Ahmad mengaku telah menekuni produksi tape sejak 1989. Usaha tersebut bahkan telah dijalankan sejak generasi neneknya, sehingga menjadi salah satu usaha turun-temurun yang bertahan hingga sekarang.

Dalam kondisi normal, Ahmad mampu mengolah sekitar dua kuintal singkong setiap hari.

Proses pengerjaan, mulai dari mengupas hingga menyelesaikan pengolahan satu kuintal singkong, membutuhkan waktu sekitar tiga sampai empat jam, bergantung pada jumlah bahan yang tersedia.

Di lingkungan Krajan Kidul, terdapat sekitar 12 rumah yang menjalankan usaha produksi tape. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat setempat yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Perkembangan usaha tape di kawasan itu juga diikuti perubahan pola pemasaran. Pada masa lalu, tape dipasok ke pabrik permen di wilayah Ngadiluwih.

Setelah pola pemasaran tersebut tidak lagi berjalan, pengrajin sempat menjual produk secara berkeliling sebelum akhirnya lebih banyak memasarkannya melalui pasar tradisional.

Saat ini, tape dipasarkan ke sejumlah pasar, di antaranya Pasar Setono Betek dan Pasar Pahing di Kota Kediri, serta pasar di Pare, Nganjuk, dan Berbek.

“Dulu disetor ke pabrik permen, kemudian dijual keliling. Sekitar sepuluh tahunan ini lebih banyak dipasarkan ke pasar sampai sekarang,” jelasnya.

Selain mengandalkan pasar tradisional, tape produksi kawasan tersebut memiliki karakteristik tersendiri. Menurut Ahmad, teksturnya cenderung agak kering tetapi tetap empuk, tidak terlalu basah seperti tape dari sejumlah daerah lain yang diketahuinya.

Produk dijual dalam berbagai ukuran sesuai permintaan pembeli. Kemasan kecil dibanderol sekitar Rp1.000 hingga Rp2.000, sedangkan pembelian dalam jumlah lebih besar tersedia dalam satuan kilogram.

Ahmad juga pernah mencoba mengembangkan produknya menjadi berbagai olahan lain, seperti tape dalam kemasan besek, permen tape, prol tape, hingga roti berbahan tape. Sejumlah upaya pengembangan tersebut sempat mendapat dukungan berupa pelatihan dan bantuan peralatan, tetapi belum menghasilkan pemasaran yang berkelanjutan.

Menurutnya, penjualan tape dalam bentuk tradisional masih menjadi pola usaha yang paling bertahan hingga saat ini. Pengrajin mengolah singkong, menjalani proses fermentasi, kemudian memasarkan tape setelah matang.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa keberlangsungan usaha tidak hanya bergantung pada kemampuan menghasilkan produk, tetapi juga ketersediaan bahan baku dan kesesuaian produk dengan kebutuhan pasar.

Ahmad berharap pasokan singkong dapat kembali lancar agar aktivitas produksi berjalan normal. Dengan demikian, para pengrajin dapat kembali memenuhi permintaan pelanggan dan mempertahankan usaha yang telah dijalankan secara turun-temurun.

Bagi Ahmad dan pengrajin lainnya, ketersediaan bahan baku menjadi faktor penting agar usaha tape tradisional di Krajan Kidul tetap bertahan dan terus menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat Desa Wonojoyo, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri.