
PEMALANG, Tandaglobal.news — Kesaksian Diah Indriyanti, ibu Muhammad Hasbi Al Aqib, menggambarkan perubahan yang dialami putranya sebelum meninggal dunia. Dari semula ceria dan aktif, Aqib disebut berubah setelah mengalami kejadian yang diduga berkaitan dengan kekerasan di sekolah.
Diah menceritakan kondisi tersebut dalam wawancara yang diunggah di kanal YouTube Curhat Bang Denny Sumargo.
Ia mengatakan Aqib sebelumnya merupakan anak yang sehat, ceria, rajin mengaji dan salat, serta lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.
Namun, menurut Diah, perubahan mulai terlihat setelah kejadian yang diduga menjadi awal kondisi Aqib memburuk.
“Semenjak kejadian itu, memang agak beda dari makan, minum sama raut wajah itu, seperti kayak menghindar dari saya.”
Aqib juga disebut mulai lebih pendiam dan menunjukkan perubahan dalam kesehariannya.
Bahkan, Diah mengatakan putranya beberapa kali memilih pergi ke rumah neneknya setelah pulang sekolah.
Perubahan kondisi Aqib turut diperhatikan oleh neneknya.
Saat melihat kondisi cucunya yang berbeda, sang nenek kemudian menemukan adanya memar di bagian perut.
“Nenek sempet lihat di perut kayak ada memar, disampein ke saya.”
Diah mengatakan, ketika Aqib pulang, dirinya sempat menanyakan kondisi tersebut.
Namun, ia melihat putranya dalam keadaan ketakutan dan ekspresinya berbeda sehingga memilih tidak terus mendesaknya untuk bercerita.

Kekhawatiran Aqib terhadap kemungkinan mengalami kekerasan juga sempat disampaikan kepada ibunya.
Pada Jumat, 11 September 2026, Aqib meminta agar ibunya tidak terlalu lama saat menjemputnya dari sekolah.
“Mama, nanti jemputnya jangan lama. Aqib takut mau dipukulin.”
Keterangan tersebut disampaikan Diah saat menceritakan kembali ucapan putranya.
Republika juga memuat kesaksian Diah mengenai ucapan Aqib tersebut.
Beberapa hari kemudian, pada Senin, 14 September 2026, Aqib disebut mulai bercerita kepada ibunya bahwa dirinya dipukuli.
Menurut Diah, Aqib menyebut lokasi kejadian berada di aula sekolah.
“Pas cerita itu bilangnya dipukuli di aula.”
Setelah itu, kondisi Aqib semakin mengkhawatirkan.
Ia mulai mengeluhkan sakit pada bagian perut dan belakang tubuhnya hingga akhirnya dibawa ke dokter.
Dalam wawancara tersebut, Diah juga menceritakan ketika pihak sekolah sempat meminta keterangan dari dua siswa yang diduga terlibat.
Menurut Diah, pada awalnya kedua siswa tersebut tidak mengakui telah melakukan kekerasan dan menyebut Aqib jatuh sendiri.
Diah tidak menerima begitu saja keterangan tersebut. Ia meyakini putranya bukan anak yang suka berbohong.
“Nggak mungkin, Aqib itu anaknya bukan pembohong, saya tahu, saya sebagai orangtua, coba diinterogasi lah.”
Kutipan tersebut dilansir tvOne dari wawancara Diah di kanal YouTube Denny Sumargo.
Dalam perkembangan berikutnya, menurut keterangan Diah, kedua siswa tersebut akhirnya mengakui telah memukuli Aqib.
Aqib kemudian menjalani perawatan di RSUD dr M Ashari Pemalang sebelum akhirnya meninggal dunia pada 30 September 2026.
Kasus dugaan kekerasan tersebut masih dalam penyelidikan kepolisian.
Penanganan kasus ini juga mendapat perhatian KPAI.
Lembaga tersebut ikut mengawasi proses penanganan dan meminta sekolah serta pemerintah daerah memastikan hak dan perlindungan anak tetap terpenuhi.
Pemerintah juga didorong memberikan pendampingan psikologis kepada keluarga korban serta bantuan hukum bila diperlukan.
Kesaksian Diah kini menjadi bagian penting dalam rangkaian informasi mengenai apa yang dialami Aqib sebelum meninggal.
Namun, hubungan pasti antara dugaan kekerasan dan penyebab kematian tetap harus dibuktikan melalui proses penyelidikan serta pemeriksaan medis dan forensik.



















Tinggalkan Balasan