

JOMBANG, Tandaglobal.news — Suasana Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, memanas pada Minggu (30/8/2026).
Sejumlah massa yang mengatasnamakan pendukung bakal calon Ketua Umum PBNU KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf berupaya mendekati hingga masuk ke area sidang setelah keputusan terkait masa iddah jabatan politik disahkan.
Ketegangan terjadi di sekitar Gedung Serba Guna (GSG) KH Hasbullah Said setelah Sidang Pleno IV menetapkan masa iddah selama satu tahun bagi calon Rais Aam dan Ketua Umum PBNU yang sebelumnya masih memiliki keterkaitan dengan jabatan politik.
Keputusan tersebut dikembalikan pada ketentuan Peraturan Perkumpulan (Perkum) yang berlaku.
KH Muhibul Aman Aly yang mewakili masyayikh mengatakan aturan itu diperlukan untuk menjaga ketertiban organisasi.
“Keputusannya terkait iddah itu dikembalikan ke Perkum semula demi tegaknya Jam’iyyah,” kata Muhibul sebelum keputusan disahkan pimpinan sidang.
Tak lama setelah keputusan tersebut, massa yang berada di sekitar arena bergerak mendekati barikade pengamanan.
Banser dan petugas keamanan panitia berusaha membendung massa agar tidak masuk ke ruang persidangan.
Sejumlah orator bahkan mengajak massa menerobos barikade.
Petugas kemudian merespons dengan melantunkan shalawat untuk meredakan situasi.
Protes terutama diarahkan pada proses pengambilan keputusan yang dinilai massa tidak adil dan berpotensi merugikan Gus Yusuf.
Mereka juga meminta para kiai sepuh turun langsung ke arena untuk melihat situasi.
“Para kiai sepuh, para kiai sepuh, para kiai sepuh, turun gunung lihat generasi muda. Kiai sepuh, kami meminta dengan hormat turun gunung melihat momentum buruk hari ini, yang tidak berlaku adil, mendzolimi,” ujar salah satu orator.
Massa kembali mendesak para ulama senior turun tangan.
“Kami meminta kepada seluruh kiai sepuh, kami hanya mendengar kiai sepuh. Turun gunung, turun gunung. Di dalam forum sudah tidak adil,” tegasnya.
Dalam perkembangan berikutnya, massa berpindah ke jembatan yang mengarah ke pintu utama GSG.
Mereka masih berupaya masuk ke area muktamar dan menuntut Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul hadir menemui mereka.
“Gus Ipul harus hadir di sini. Sekali lagi kami tidak akan pernah lelah,” kata orator.
Panitia menyebut kericuhan berlangsung sekitar pukul 12.00 WIB dan diduga melibatkan sejumlah orang yang bukan muktamirin.
Gus Amik Izzul Islam dari Bidang Media dan Publikasi Panitia Lokal Muktamar mengatakan ada pihak yang menggunakan atribut salah satu bakal calon.
“Ketika tim kami turun ke lapangan, ada oknum-oknum yang menggunakan atribut salah satu bakal calon, Gus Yusuf. Tapi kaosnya dibalik,” ujar Gus Amik.
Menurutnya, kericuhan berlangsung setelah pimpinan sidang bersama masyayikh menetapkan tata tertib terkait pemilihan Ketua Umum PBNU.
“Salah satu poin bahwa ketua umum itu harus iddah minimal satu tahun dari partai politik maupun jabatan-jabatan apa pun,” jelasnya.
Gus Amik juga menyebut terdapat gangguan terhadap fasilitas di arena sidang.
“Jadi ada yang sempat terbakar. Setelah itu keamanan berhasil memundurkan oknum-oknum yang membuat ricuh ini di sebelah barat tenda,” katanya.
Ketua Panitia Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, menyebut insiden tersebut sebagai bagian dari dinamika dalam muktamar.
Ia meminta persoalan tersebut dilihat secara utuh.
“Itu biasa lah dinamika. Ini sebagai bagian dari pernak-perniknya muktamar. Kita lihat nanti seperti apa. Harus kita pahami secara utuh, tidak boleh sepotong-sepotong,” ujar Gus Ipul.
Ia menegaskan perubahan terhadap keputusan muktamar bukan menjadi kewenangan panitia, melainkan peserta muktamar.
“Semua tergantung muktamirin. Keputusan-keputusan di sini adalah keputusan yang mengikat. Dan kalau nanti misalnya mau diubah, ya tentu atas persetujuan peserta muktamar,” katanya.
Ketegangan tersebut kemudian mendapat respons langsung dari Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya.
Ia meminta massa menahan diri dan menjanjikan upaya mencari jalan keluar yang dapat diterima semua pihak.
“Saya mohon agar lebih tenang. Saya pribadi, berjanji akan berusaha ikut mencari jalan keluar yang bijaksana dari ini yang bisa membuat tenang semua,” kata Gus Yahya.
Gus Yahya juga menyatakan Gus Yusuf merupakan salah satu kader potensial NU.
Ia menilai keberadaan dan kontribusi Gus Yusuf tetap penting bagi organisasi.
“Terkait dengan Gus Yusuf Chudlori, sebetulnya saya mengakui bahwa beliau adalah kader yang unggul dan aktif, termasuk yang unggul dibanding yang lain,” ujarnya.
Namun, Gus Yahya menegaskan keputusan forum muktamirin tetap harus dihormati.
“Seandainya tergantung saya pribadi, saya ingin semua bisa diakomodasi, semua mendapat kesempatan. Tapi para muktamirin sudah membuat keputusan,” katanya.
Meskipun sempat mengganggu jalannya agenda persidangan, situasi di lokasi kemudian berangsur kondusif dan proses Muktamar NU ke-35 kembali dilanjutkan.




















Tinggalkan Balasan