Lebih jauh, Gus Barok berharap karnaval di Kabupaten Kediri mampu memiliki karakter yang lebih kuat dengan mengangkat kekayaan budaya lokal.

Menurutnya, Kediri memiliki beragam potensi yang dapat diolah menjadi pertunjukan menarik tanpa harus meninggalkan perkembangan zaman.

Mulai dari sejarah, kesenian, tradisi, cerita rakyat, wastra, situs budaya hingga berbagai potensi lokal, menurut Gus Barok, dapat menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat untuk menciptakan konsep karnaval yang kreatif dan kekinian.

“Kediri ini kaya sejarah, kesenian, tradisi, cerita rakyat, wastra, situs, sampai berbagai potensi lokal yang bisa diterjemahkan menjadi pertunjukan yang kreatif dan kekinian. Jadi modern boleh, meriah boleh, sound system juga boleh, tetapi jangan sampai karnaval kehilangan identitasnya,” katanya.

Ia menilai, apabila setiap desa hanya berlomba menampilkan sound system dengan suara paling keras, maka karnaval yang digelar di berbagai wilayah justru berpotensi kehilangan keunikan.

Sebaliknya, setiap desa dapat menonjolkan kekhasan budaya dan potensi lokal masing-masing.

“Kalau setiap desa hanya berlomba siapa yang sound-nya paling keras, pada akhirnya semua karnaval akan terlihat sama. Tetapi kalau setiap desa berani mengangkat kekhasan budayanya, justru di situlah karnaval Kabupaten Kediri akan mempunyai nilai dan kebanggaan,” ungkapnya.

Gus Barok menegaskan, karnaval seharusnya tidak sekadar menghadirkan kemeriahan di sepanjang jalan.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu menjadi sarana untuk memperkenalkan, merawat, sekaligus mengembangkan kebudayaan lokal di tengah perubahan zaman.

“Prinsipnya sederhana: karnaval jangan hanya membuat jalanan ramai, tetapi juga harus membuat kebudayaan hidup,” pungkasnya.