Warga bahkan memanfaatkan karung bekas yang diperoleh dari pengusaha tempe serta bambu untuk membuat tanggul atau embung sederhana.
Dari proses gotong royong tersebut, kawasan sumber perlahan ditata hingga kemudian berkembang menjadi destinasi wisata.
Pengelolaan wisata tersebut selanjutnya memperoleh SK resmi pada 2018, sehingga keberadaan Sumber Banteng semakin memiliki dasar pengelolaan sebagai kawasan wisata masyarakat.
Salah satu keistimewaan Sumber Banteng adalah mata airnya yang hingga kini masih mengalir.
Sudarsono menyebut sumber tersebut tidak pernah benar-benar kering, meskipun debit air dapat mengalami penurunan ketika musim kemarau panjang.
Keberadaan sumber air tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat sekitar, khususnya para petani.
Aliran air dari sumber masih dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pertanian.
“Kalau kemarau panjang debitnya memang berkurang, tetapi sumbernya tidak pernah sampai kering. Airnya masih dimanfaatkan petani untuk kebutuhan pertanian,” katanya.
Menurut informasi dari beberapa warga, pemanfaatan sumber air tersebut telah berlangsung sejak dahulu.
Pada masa lalu, masyarakat juga memiliki kebiasaan membawa makanan atau mengadakan syukuran ketika musim kemarau sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa agar sumber air tetap terjaga.
Kini, nilai sejarah, budaya, lingkungan, dan pemanfaatan sumber air tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Sumber Banteng.
Warga berharap kawasan tersebut dapat terus dijaga sehingga tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah lokal dan pentingnya menjaga sumber daya air.
Pengembangan Sumber Banteng pun menunjukkan bagaimana inisiatif sederhana masyarakat melalui gotong royong dapat berkembang menjadi destinasi wisata, tanpa meninggalkan fungsi utama mata air sebagai sumber kehidupan bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.




















Tinggalkan Balasan