

KEDIRI, Tandaglobal.news — Wisata Sumber Banteng di RT 21 RW 6, Lingkungan Kwangkalan, Kelurahan Tempurejo, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri, tidak hanya menawarkan suasana alami.
Di balik keberadaannya, terdapat cerita sejarah lokal mengenai asal-usul nama Sumber Banteng yang masih diwariskan masyarakat dari generasi ke generasi.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) sekaligus pengelola wisata Sumber Banteng, Sudarsono, mengatakan kawasan tersebut dahulu dikenal sebagai wilayah yang banyak dihuni banteng.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, banteng-banteng tersebut kerap mendatangi sebuah kubangan besar untuk makan dan minum.
“Dulu di sini memang ada banyak banteng. Ada kubangan yang menjadi tempat banteng berkumpul, makan dan minum. Dari situlah kemudian muncul cerita mengenai Sumber Banteng,” ujar Sudarsono saat ditemui pada Rabu (19/8/2026).
Informasi mengenai sejarah tersebut juga diperoleh dari cerita sejumlah warga yang telah lama tinggal di kawasan sekitar.
Salah satu lokasi yang berkaitan dengan cerita itu adalah jalan yang kemudian dikenal masyarakat sebagai Kali Kandang, yang dipercaya berkaitan dengan tempat berkumpulnya banteng pada masa lalu.
Selain cerita tentang banteng, masyarakat juga mengenal kisah mengenai seorang tokoh bernama Mbah Sepur.
Cerita tersebut menjadi bagian dari sejarah lisan yang berkembang di sekitar kawasan sumber dan turut memperkaya nilai budaya Sumber Banteng.
Menurut Sudarsono, keberadaan wisata Sumber Banteng pada awalnya bukan dirancang sebagai tempat wisata.
Warga lebih dahulu memiliki kepedulian untuk menjaga keberadaan mata air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat, terutama untuk kebutuhan pertanian.
Pengembangan kawasan mulai dilakukan sekitar 2017 melalui swadaya dan gotong royong masyarakat.
Saat itu, warga bekerja tanpa mengandalkan modal besar. Mereka membersihkan lumpur di sekitar sumber dan berupaya membuat penampungan air dengan memanfaatkan bahan sederhana.
“Awalnya bukan berpikir membuat tempat wisata. Yang penting sumber air ini tetap ada dan bisa dimanfaatkan. Warga kemudian kerja bakti bersama-sama, membersihkan lumpur dan membuat tanggul dengan bahan seadanya,” jelasnya.
Warga bahkan memanfaatkan karung bekas yang diperoleh dari pengusaha tempe serta bambu untuk membuat tanggul atau embung sederhana.
Dari proses gotong royong tersebut, kawasan sumber perlahan ditata hingga kemudian berkembang menjadi destinasi wisata.
Pengelolaan wisata tersebut selanjutnya memperoleh SK resmi pada 2018, sehingga keberadaan Sumber Banteng semakin memiliki dasar pengelolaan sebagai kawasan wisata masyarakat.
Salah satu keistimewaan Sumber Banteng adalah mata airnya yang hingga kini masih mengalir.
Sudarsono menyebut sumber tersebut tidak pernah benar-benar kering, meskipun debit air dapat mengalami penurunan ketika musim kemarau panjang.
Keberadaan sumber air tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat sekitar, khususnya para petani.
Aliran air dari sumber masih dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pertanian.
“Kalau kemarau panjang debitnya memang berkurang, tetapi sumbernya tidak pernah sampai kering. Airnya masih dimanfaatkan petani untuk kebutuhan pertanian,” katanya.
Menurut informasi dari beberapa warga, pemanfaatan sumber air tersebut telah berlangsung sejak dahulu.
Pada masa lalu, masyarakat juga memiliki kebiasaan membawa makanan atau mengadakan syukuran ketika musim kemarau sebagai bentuk rasa syukur sekaligus doa agar sumber air tetap terjaga.
Kini, nilai sejarah, budaya, lingkungan, dan pemanfaatan sumber air tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Sumber Banteng.
Warga berharap kawasan tersebut dapat terus dijaga sehingga tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan sejarah lokal dan pentingnya menjaga sumber daya air.
Pengembangan Sumber Banteng pun menunjukkan bagaimana inisiatif sederhana masyarakat melalui gotong royong dapat berkembang menjadi destinasi wisata, tanpa meninggalkan fungsi utama mata air sebagai sumber kehidupan bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.




















Tinggalkan Balasan