Ia menyebut warga harus berjalan sekitar dua kilometer untuk mengambil air dari sumber yang masih mengalir.
Akses menuju lokasi juga tidak mudah karena sebagian jalan masih berupa jalan setapak dan berada di medan menanjak.
“Kalau habis mandi kemudian harus berjalan pulang, keringat lagi. Kalau sore, saya biasanya turun ke rumah saudara untuk mandi sekaligus membawa galon,” katanya.
Untuk kebutuhan minum, satu keluarga setidaknya membutuhkan satu galon air dalam sehari.
Namun, jumlah tersebut belum mencukupi apabila digunakan untuk kebutuhan lain.
Slamet menyebut kondisi kekurangan air sebenarnya berulang setiap musim kemarau.
Saat musim hujan, persoalan tersebut relatif tidak dirasakan karena warga dapat menampung air hujan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Namun, memasuki kemarau tahun ini, kondisi dinilai lebih parah.
Debit sumber air mulai menurun sejak sekitar satu bulan terakhir dan dalam sepekan terakhir alirannya bahkan terhenti.
“Sebulan ini yang parah. Sebelumnya sudah mulai ada tanda-tanda, air masih ada tetapi kecil. Sekarang sudah lebih dari seminggu tidak keluar,” ungkapnya.
Kondisi tersebut disebut berdampak pada hampir seluruh warga di wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.
Hanya sebagian kecil warga yang memiliki sumur pribadi yang masih dapat memenuhi kebutuhan air.
Slamet mengatakan terdapat setidaknya dua warga yang memiliki sumur bor dengan kedalaman puluhan hingga mendekati 100 meter.
Namun, tidak semua warga mampu membuat sumur sendiri karena membutuhkan biaya besar.
“Yang punya sumur sendiri hanya sekitar dua. Itu pun sumurnya di lahan tegalan dan dibuat sendiri,” katanya.




















Tinggalkan Balasan