Menurutnya, penggunaan media sosial menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan sejarah lokal kepada masyarakat dengan pendekatan yang lebih dekat dengan generasi muda.

Sejarah tidak hanya disampaikan melalui tulisan atau kegiatan formal, tetapi dapat dikemas menjadi konten visual yang lebih mudah dibagikan.

Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan mampu menghasilkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki informasi sejarah yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Kami berharap dari kegiatan ini muncul konten-konten sejarah lokal yang bisa disebarluaskan melalui media sosial. Dengan begitu, informasi tentang sejarah Pare bisa menjangkau masyarakat yang lebih luas, terutama anak-anak muda,” jelas Eko.

Kehadiran komunitas sejarah lokal sebagai pemandu juga menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat.

Mereka membantu peserta memahami konteks lokasi yang dikunjungi sekaligus memperkenalkan berbagai cerita sejarah yang berkembang di wilayah Pare.

Kegiatan walking tour tersebut sekaligus menjadi penutup rangkaian program selama tiga hari yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri dalam rangka memperingati Hari Besar Nasional dan HUT Kemerdekaan RI.

Eko berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak generasi muda dan komunitas lokal.

Menurutnya, pelestarian sejarah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat agar warisan sejarah tetap dikenal dan dihargai.

“Sejarah lokal harus terus kita hidupkan. Salah satu caranya dengan melibatkan generasi muda, komunitas, dan masyarakat untuk bersama-sama mengenali, merawat, kemudian mengenalkan kembali sejarah yang ada di daerah kita,” pungkasnya.