Delapan Tahun Digelar Secara Swadaya

Gerakan tersebut menjadi bagian dari rangkaian tasyakuran 17 dan 18 Agustus yang secara rutin digelar di Situs Ndalem Pojok Kediri.

Tradisi tersebut telah berlangsung selama delapan tahun sejak pertama kali dirintis pada 2018. Belasan komunitas di Kediri turut mendukung kegiatan tersebut.

Menariknya, seluruh agenda disebut digelar secara mandiri melalui gotong royong masyarakat, tanpa mengandalkan proposal sponsorship maupun pendanaan komersial.

Ari Hakim LC, panitia seksi tasyakuran 18 Agustus, mengatakan semangat swadaya tersebut menjadi bagian penting dari gerakan yang mereka bangun.

“Di tengah dinamika bangsa hari ini yang sering diuji krisis integritas dan maraknya kasus korupsi, keikhlasan adalah benteng utama kita. Gerakan ini murni swadaya masyarakat sebagai bentuk kepedulian dan rasa syukur mendalam atas nikmat kemerdekaan bangsa dan berdirinya negara,” ujarnya.

Melalui surat kepada pemerintah pusat dan pimpinan lembaga negara, komunitas di Kediri berharap gagasan tasyakuran 18 Agustus dapat memperoleh perhatian lebih luas dan berkembang menjadi gerakan syukur kebangsaan di berbagai daerah.

Salah satu Ketua JKPHS Kabupaten Kediri, Erni Nengtyas, mengatakan kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi diharapkan mampu menumbuhkan kembali kesadaran masyarakat mengenai pentingnya kehidupan berbangsa dan bernegara.

*“Kami senantiasa berdoa kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa dan memohon doa restu serta dukungan dari segenap rakyat Indonesia.” *ungkapnya.

“Semoga tasyakuran kebangsaan ini berjalan lancar dan bisa menumbuhkan kesadaran berbangsa dan kesadaran bernegara. Itulah pentingnya tasyakuran tanggal 17 dan tanggal 18 ini,” tambah Erni.