Kepanikan baru terjadi ketika kobaran api mulai membesar menjelang jam pulang sekolah.

“Kami kira awalnya pembakaran sampah biasa. Tahu-tahu api sudah membara. Anak-anak langsung keluar, kami bersama warga berusaha menyiram api sambil menghubungi Damkar,” ungkapnya.

Ia menambahkan, tumpukan kayu yang terbakar merupakan aset sekolah berupa bangku, meja, lemari, dan perabot lama yang masih disimpan karena proses penghapusan aset pemerintah harus melalui mekanisme administrasi.

Tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut.

Kerugian material diperkirakan mencapai sekitar Rp2 juta hingga Rp5 juta, sementara nilai aset yang berhasil diselamatkan masih dalam proses pendataan.

Kaleb mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan, terutama saat musim kemarau yang disertai angin kencang.

“Kami menghimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah, baik sampah rumah tangga maupun sisa hasil kebun. Pada musim kemarau seperti sekarang, api sangat mudah merambat dan dapat memicu kebakaran yang lebih besar,” tegasnya.