Salah satu contoh penerapannya dilakukan saat siswa mempelajari tema keluarga dan lingkungan. Guru mengajak peserta didik berkunjung ke rumah salah satu teman sehingga mereka dapat mengenal lingkungan sosial sekaligus melatih kemampuan berkomunikasi secara langsung.

“Kurikulum dinas tetap kami gunakan, tetapi metodenya berbeda. Anak-anak tidak hanya menerima teori, tetapi mengalami langsung apa yang sedang dipelajari,” kata Dewi.

Menurutnya, pendekatan tersebut memberikan dampak positif terhadap perkembangan peserta didik. Banyak orang tua menyampaikan bahwa anak menjadi lebih mandiri dan mampu mempertahankan fokus meskipun belajar di lingkungan yang terbuka.

Kondisi tersebut terbentuk karena siswa terbiasa belajar dalam berbagai situasi sehingga mampu berkonsentrasi pada tugas yang sedang dikerjakan tanpa mudah terganggu oleh aktivitas di sekitarnya.

“Anak-anak belajar fokus pada apa yang harus mereka kerjakan. Itu yang sering menjadi testimoni orang tua. Mereka lebih mandiri dan kualitas fokusnya juga lebih bagus,” ungkapnya.

Saat ini Sekolah Saka memiliki sekitar 80 siswa mulai dari jenjang PAUD hingga SMA. Meski jumlah peserta didiknya tidak besar, sekolah tersebut tetap mempertahankan pendekatan pendidikan yang menempatkan anak sebagai pusat dari seluruh proses pembelajaran.

Bagi Dewi, tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan nilai akademik tinggi ataupun mengejar predikat sekolah unggulan. Pendidikan, menurutnya, harus mampu membantu setiap anak mengenali potensi terbaiknya sebagai bekal menghadapi kehidupan di masa mendatang.

“Pendidikan itu harus fokus pada anak. Sekolah seharusnya membantu mereka menemukan potensi terbaiknya, bukan sekadar mengejar atribut dan prestise,” tegasnya.