
Tandaglobal.news | Kediri — Di tengah banyaknya sekolah yang berlomba menawarkan fasilitas dan prestasi akademik, Sekolah Saka di Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, memilih menempuh jalur berbeda. Sekolah ini tidak mengandalkan ruang kelas permanen sebagai pusat pembelajaran, melainkan menghadirkan pengalaman belajar yang menyesuaikan kebutuhan dan perkembangan setiap anak.
Konsep tersebut berangkat dari keyakinan bahwa setiap anak memiliki karakter, minat, dan potensi yang tidak sama. Karena itu, proses pembelajaran dirancang untuk membantu anak bertumbuh sesuai kemampuannya, bukan sekadar mengejar target materi pelajaran.
Pendiri Sekolah Saka, Dewi Faridha, mengatakan pendidikan di sekolah tersebut lebih menitikberatkan pada proses tumbuh kembang anak daripada mengejar capaian akademik semata.
“Kalau sekolah pada umumnya fokus pada materi, di Saka kami fokus pada menumbuhkan anak. Untuk usia PAUD kami menstimulasi multiple intelligence, sementara di SD anak-anak diajak banyak bereksplorasi terhadap lingkungan sekitarnya,” ujarnya.
Pada jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), berbagai aktivitas dilakukan untuk merangsang kecerdasan majemuk anak. Memasuki sekolah dasar, peserta didik lebih banyak belajar melalui interaksi langsung dengan lingkungan sekitar.
Berbagai bahan alami dimanfaatkan sebagai media belajar. Anak-anak diajak membuat karya menggunakan daun, bunga, maupun material yang tersedia di alam. Mereka juga belajar mengolah sampah organik menjadi pupuk sebagai bagian dari pembelajaran berbasis proyek sekaligus mengenalkan kepedulian terhadap lingkungan.
Ketika memasuki jenjang SMP hingga SMA, pembelajaran mulai diarahkan pada pengenalan potensi diri.
Para siswa diberikan kesempatan mengeksplorasi berbagai bidang sesuai minat masing-masing, seperti desain grafis, public speaking, seni musik, hingga keterampilan kuliner dan peracikan minuman.
Meski menerapkan metode belajar yang berbeda, Sekolah Saka tetap menggunakan kurikulum nasional sebagai acuan. Perbedaannya terletak pada cara penyampaian materi yang lebih menekankan praktik langsung dibandingkan pembelajaran di dalam kelas.
Salah satu contoh penerapannya dilakukan saat siswa mempelajari tema keluarga dan lingkungan. Guru mengajak peserta didik berkunjung ke rumah salah satu teman sehingga mereka dapat mengenal lingkungan sosial sekaligus melatih kemampuan berkomunikasi secara langsung.
“Kurikulum dinas tetap kami gunakan, tetapi metodenya berbeda. Anak-anak tidak hanya menerima teori, tetapi mengalami langsung apa yang sedang dipelajari,” kata Dewi.
Menurutnya, pendekatan tersebut memberikan dampak positif terhadap perkembangan peserta didik. Banyak orang tua menyampaikan bahwa anak menjadi lebih mandiri dan mampu mempertahankan fokus meskipun belajar di lingkungan yang terbuka.
Kondisi tersebut terbentuk karena siswa terbiasa belajar dalam berbagai situasi sehingga mampu berkonsentrasi pada tugas yang sedang dikerjakan tanpa mudah terganggu oleh aktivitas di sekitarnya.
“Anak-anak belajar fokus pada apa yang harus mereka kerjakan. Itu yang sering menjadi testimoni orang tua. Mereka lebih mandiri dan kualitas fokusnya juga lebih bagus,” ungkapnya.
Saat ini Sekolah Saka memiliki sekitar 80 siswa mulai dari jenjang PAUD hingga SMA. Meski jumlah peserta didiknya tidak besar, sekolah tersebut tetap mempertahankan pendekatan pendidikan yang menempatkan anak sebagai pusat dari seluruh proses pembelajaran.
Bagi Dewi, tujuan pendidikan bukan sekadar menghasilkan nilai akademik tinggi ataupun mengejar predikat sekolah unggulan. Pendidikan, menurutnya, harus mampu membantu setiap anak mengenali potensi terbaiknya sebagai bekal menghadapi kehidupan di masa mendatang.
“Pendidikan itu harus fokus pada anak. Sekolah seharusnya membantu mereka menemukan potensi terbaiknya, bukan sekadar mengejar atribut dan prestise,” tegasnya.




















Tinggalkan Balasan