Guru Ngaji Soroti Dampak Program Lima Hari Sekolah

Halimah, guru ngaji TPQ Hidayatul Ummah, menyampaikan pandangannya mengenai dampak program lima hari sekolah terhadap aktivitas TPQ dan kesejahteraan guru ngaji.(Dok. Maulana Rahmadha / Tandaglobalnews )

Tandaglobal.news Kediri |— Kebijakan program lima hari sekolah (full day school) dinilai memberikan dampak yang cukup besar terhadap keberlangsungan pendidikan keagamaan nonformal, khususnya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ). Jam belajar siswa di sekolah formal yang berlangsung hingga sore hari menyebabkan jumlah santri di TPQ mengalami penurunan, sehingga berpengaruh terhadap aktivitas belajar mengajar maupun kesejahteraan para guru ngaji.

Hal tersebut disampaikan oleh Halimah, guru ngaji di TPQ Hidayatul Ummah, Desa Asmorobangun, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, saat ditemui pada Rabu (1/7/2026).

Menurut Halimah, sejak diberlakukannya sistem lima hari sekolah, banyak anak yang kesulitan mengikuti kegiatan belajar di TPQ karena pulang dari sekolah formal dalam kondisi lelah dan waktu belajar menjadi semakin terbatas.

“Anak-anak sekarang pulang sekolah sudah sore. Banyak yang tidak sempat datang mengaji, bahkan ada yang memilih beristirahat karena sudah kelelahan setelah belajar seharian,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berkurangnya jumlah santri berdampak langsung pada jam mengajar para guru ngaji. Sejumlah kelas harus digabung karena peserta didik semakin sedikit, bahkan tidak menutup kemungkinan ada lembaga yang terpaksa menghentikan kegiatan apabila jumlah santri terus menurun.

Selain memengaruhi proses pembelajaran, kondisi tersebut juga berdampak pada kesejahteraan guru. Menurut Halimah, sebagian besar guru TPQ mengandalkan insentif dari iuran wali santri maupun bantuan operasional lembaga. Ketika jumlah santri berkurang, pendapatan guru pun ikut menurun.

“Kalau santri berkurang, otomatis pemasukan lembaga juga berkurang. Dampaknya tentu dirasakan oleh para guru yang selama ini mengabdi mengajar mengaji,” katanya.

Bagi TPQ yang tetap menyelenggarakan pembelajaran pada sore hingga menjelang malam, tantangan lain muncul karena kondisi santri yang sudah kelelahan. Akibatnya, proses pembelajaran Al-Qur’an maupun materi keagamaan seperti fiqih, tajwid, dan akhlak menjadi kurang optimal.

Baca Juga  Saat Sekolah Negeri Dibanjiri Pendaftar, MTs Kecil di Kediri Baru Dapat Tiga Siswa

Halimah juga menilai keberadaan TPQ memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan akhlak anak-anak di lingkungan masyarakat. Karena itu, ia berharap pendidikan formal dan pendidikan keagamaan dapat berjalan berdampingan tanpa saling mengurangi perannya.

“Kami berharap ada kebijakan yang bisa menjadi jalan tengah agar anak-anak tetap mendapatkan pendidikan umum sekaligus pendidikan agama. TPQ bukan hanya tempat belajar mengaji, tetapi juga tempat membentuk akhlak dan karakter generasi muda,” tutup Halimah.

Berbagai organisasi pendidikan keagamaan dan para pengelola Madrasah Diniyah maupun TPQ juga terus mendorong adanya penyesuaian kebijakan jam belajar sekolah formal agar pendidikan agama nonformal tetap dapat berjalan dan kesejahteraan para guru ngaji tetap terjaga.

Jurnalis : Maulana Rahmadha

administrator
Media Berita Online | Menyampaikan Berita Terkini - Aktual - Terpercaya

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *