Tandaglobal.news | Jakarta — Upaya menemukan alternatif gula yang lebih sehat mendorong ilmuwan mengembangkan tagatosa, gula alami dengan rasa manis mendekati gula pasir tetapi memiliki kandungan kalori lebih rendah.

Tagatosa merupakan gula alami yang ditemukan dalam jumlah terbatas pada beberapa jenis buah dan produk susu.

Senyawa ini kembali mendapat perhatian karena memiliki karakteristik yang dinilai lebih menguntungkan dibandingkan gula pasir.

Tingkat kemanisannya mencapai sekitar 90 persen dari gula pasir, sementara kandungan kalorinya hanya sekitar sepertiga dari gula biasa.

Kondisi tersebut membuat tagatosa berpotensi membantu mengurangi asupan kalori tanpa menghilangkan sensasi rasa manis pada makanan dan minuman.

Berbeda dengan gula pasir yang cepat diserap tubuh dan dapat memicu peningkatan kadar gula darah, sebagian besar tagatosa tidak langsung masuk ke aliran darah.

Tagatosa lebih banyak difermentasi oleh bakteri di usus besar sehingga respons kadar gula darah dan insulin cenderung lebih rendah.

Karakteristik tersebut membuat tagatosa mulai dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan pemanis bagi masyarakat yang perlu mengontrol kadar gula darah.

Meski demikian, para ahli tetap mengingatkan bahwa penggunaan tagatosa perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan setiap individu.

Selain berkaitan dengan metabolisme tubuh, tagatosa juga menunjukkan potensi manfaat lain melalui sejumlah penelitian.

Bakteri penyebab gigi berlubang diketahui tidak mudah memanfaatkan tagatosa sebagai sumber energi seperti halnya gula pasir.

Senyawa ini juga berpotensi mendukung pertumbuhan bakteri baik di mulut dan saluran pencernaan melalui efek prebiotik ringan.

Dalam industri pangan, tagatosa menarik perhatian karena memiliki sifat yang menyerupai gula pasir.

Pemanis alami ini tetap dapat digunakan untuk memasak maupun memanggang karena relatif mampu mempertahankan rasa dan tekstur makanan.

Keunggulan tersebut membuat tagatosa semakin dilirik oleh industri makanan dan minuman yang berupaya mengurangi penggunaan gula.

Namun, pengembangan tagatosa masih menghadapi tantangan terutama pada proses produksi.

Ketersediaannya di alam yang sangat terbatas membuat biaya produksi tagatosa masih relatif tinggi.

Para peneliti kini mengembangkan teknologi produksi menggunakan bakteri hasil rekayasa biologis yang mampu mengubah glukosa menjadi tagatosa secara lebih efisien.

Teknologi tersebut diharapkan dapat menekan biaya produksi sehingga tagatosa dapat dibuat dalam skala yang lebih besar.

Meski memiliki sejumlah keunggulan, tagatosa bukanlah pengganti sempurna bagi gula.

Konsumsi berlebihan tetap dapat menimbulkan gangguan pencernaan seperti kembung atau diare pada sebagian orang yang sensitif terhadap jenis gula tertentu.

Dengan perkembangan riset yang terus berlangsung, tagatosa menjadi salah satu kandidat pemanis masa depan yang berpotensi menawarkan rasa manis dengan dampak kesehatan yang lebih rendah.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.