Tebing Tinggi, Tandaglobal.news — Nama PT Adei Crumb Rubber Industry (PT ADEI CRI) menjadi bagian dari sejarah industri pengolahan karet di Kota Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Perusahaan ini berdiri sejak 1954 dan selama puluhan tahun menjalankan usaha pengolahan serta ekspor karet remah (crumb rubber).
Perjalanan perusahaan berlangsung melalui sejumlah perubahan nama dan arah usaha. Dari perusahaan perdagangan pada awal pendiriannya, Adei kemudian berkembang menjadi industri pengolahan karet yang memproduksi karet alam olahan untuk pasar ekspor.
Dokumen akademik mengenai PT Adei menyebut perusahaan didirikan pada 1954 dan memiliki fasilitas pabrik, kantor serta perumahan karyawan dengan luas lahan sekitar 10 hektare. Penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) juga mencatat bahwa PT Adei merupakan perusahaan swasta yang bergerak dalam pengolahan karet alam menjadi produk Standard Indonesian Rubber (SIR).
Berdiri sebagai Perusahaan Perdagangan
Sejarah PT Adei bermula pada 20 Februari 1954. Pada saat itu perusahaan didirikan dengan nama ADEI Trading Company Limited melalui akta notaris H. Soetan Pane Paroehoem.
Tidak lama kemudian, tepatnya pada 15 Mei 1954, anggaran dasar perusahaan mengalami perubahan dan nama perusahaan menjadi NV ADEI Trading Company Limited. Perubahan tersebut menjadi tahap awal perjalanan Adei sebelum kemudian memasuki bisnis pengolahan karet.
Dalam perkembangannya, perusahaan tidak lagi hanya berorientasi pada aktivitas perdagangan. Adei kemudian membangun kegiatan industri pengolahan karet remah yang berlokasi di Tebing Tinggi, Sumatera Utara.
Lokasi pabrik tercatat berada di kawasan Jalan Imam Bonjol, Tebing Tinggi. Direktori industri BPS Sumatera Utara juga mencatat PT Adei Crumb Rubber Industry sebagai perusahaan industri karet remah dengan produk utama SIR 20.
Berubah Menjadi PT Adei Crumb Rubber Industry
Perubahan penting terjadi pada 4 Mei 1979. Berdasarkan dokumen sejarah perusahaan yang tersedia dalam sejumlah penelitian, perusahaan mengalami perubahan nama menjadi PT Adei Crumb Rubber Industry.
Nama tersebut kemudian berkaitan langsung dengan bidang usaha utama perusahaan, yakni pengolahan karet alam menjadi crumb rubber atau karet remah.
Produk karet remah merupakan bahan baku industri karet yang digunakan untuk berbagai kebutuhan manufaktur. PT Adei mengolah bahan baku berupa karet rakyat maupun karet dari perkebunan swasta menjadi karet olahan dengan standar tertentu.
Penelitian IPB mencatat bahwa SIR 20 menjadi produk utama PT Adei dan produksinya ditujukan untuk pasar ekspor. Pada periode penelitian tersebut, produk perusahaan diekspor antara lain ke Korea, China, Jerman dan negara-negara lainnya.
Pernah Mengembangkan Rencana Perkebunan
Perjalanan perusahaan kembali mengalami perubahan pada 1994. Saat itu nama perusahaan berubah menjadi PT Adei Plantation and Industry.
Perubahan tersebut berkaitan dengan rencana perusahaan untuk membuka perkebunan di Provinsi Riau. Namun, berdasarkan penelitian yang tersedia, rencana pembukaan perkebunan tersebut tidak terealisasi karena dinilai tidak memberikan hasil yang baik.
Beberapa tahun kemudian, nama perusahaan kembali berubah. Pada 1997, perusahaan menggunakan nama PT Adei Crumb Rubber Industry, nama yang kemudian dikenal dalam kegiatan industri pengolahan karet di Tebing Tinggi.
Mengolah Karet dari Petani dan Perkebunan
Sebagai industri pengolahan karet, PT Adei memperoleh bahan baku dari berbagai sumber. Dokumen mengenai perusahaan menyebut bahan bakunya antara lain berupa slab dan lump/getah mangkuk yang berasal dari pasar, perkebunan rakyat maupun perusahaan perkebunan swasta.
Bahan baku tersebut kemudian diproses melalui sejumlah tahapan industri hingga menghasilkan karet remah.
Produk yang dihasilkan antara lain tercatat dalam beberapa mutu SIR 5, SIR 10, dan SIR 20, meskipun penelitian IPB mengenai perusahaan menempatkan SIR 20 sebagai produk utama.
Kegiatan tersebut menjadikan PT Adei sebagai bagian dari rantai industri karet alam, mulai dari bahan baku yang berasal dari petani dan perkebunan hingga produk olahan yang dikirim ke pasar internasional.
Menjadi Bagian dari Industri Ekspor Karet Sumatera Utara
Industri karet remah memiliki posisi penting dalam perekonomian Sumatera Utara. Komoditas karet merupakan salah satu produk perkebunan yang selama bertahun-tahun menjadi komoditas ekspor Indonesia.
Dalam penelitian IPB tahun 2010, PT Adei disebut memiliki sekitar 400 tenaga kerja. Penelitian tersebut juga memperkirakan sekitar 10.000 orang, termasuk keluarga pekerja, bergantung pada penghidupan yang berkaitan dengan perusahaan.
Angka tersebut menggambarkan besarnya hubungan sebuah pabrik pengolahan karet dengan masyarakat di sekitarnya, baik melalui tenaga kerja langsung maupun aktivitas ekonomi yang terkait dengan rantai pasok karet.
Modernisasi Mesin dan Proses Produksi
Untuk mempertahankan kegiatan produksi, PT Adei melakukan berbagai pembaruan terhadap fasilitas industrinya.
Dokumen teknis mengenai perusahaan mencatat bahwa Adei telah beberapa kali melakukan rehabilitasi mesin dan reinvestasi peralatan baru. Langkah tersebut dilakukan untuk mengikuti perkembangan teknologi serta meningkatkan efisiensi proses produksi.
Salah satu kajian teknis mengenai pabrik bahkan secara khusus membahas pengendalian dryer dalam proses produksi crumb rubber. Pengeringan menjadi salah satu tahapan penting untuk menjaga konsistensi mutu produk karet yang dihasilkan.
Pengembangan fasilitas produksi juga berkaitan dengan tuntutan pasar internasional terhadap kualitas dan konsistensi produk.
Mempertahankan Pasar Ekspor
Selama menjalankan kegiatan industrinya, PT Adei tidak hanya melayani kebutuhan pasar domestik. Produk karet olahannya dipasarkan ke berbagai negara.
Penelitian IPB mencatat ekspor PT Adei antara lain menuju Korea, China, Jerman dan negara-negara lain. Dokumen teknis perusahaan juga menyebut pemasaran produk ke sejumlah negara seperti Amerika, Kanada, negara-negara Eropa, Australia dan sebagian negara Asia.
Perdagangan internasional membuat perusahaan harus menyesuaikan kualitas produk dengan standar industri karet dunia.
Kondisi tersebut juga mendorong perusahaan untuk mempertahankan efisiensi produksi dan melakukan pembaruan peralatan dari waktu ke waktu.
Tercatat sebagai Industri Karet di Tebing Tinggi
Keberadaan PT Adei juga tercatat dalam direktori industri Badan Pusat Statistik Sumatera Utara.
Dalam direktori industri besar dan sedang, ADEI Crumb Rubber Industry, PT tercatat sebagai industri karet remah (crumb rubber) dengan produk utama SIR 20. Alamat pabrik dicatat di Jalan Imam Bonjol No. 239, Tebing Tinggi.
Catatan tersebut memperlihatkan bahwa PT Adei merupakan salah satu perusahaan yang masuk dalam ekosistem industri pengolahan karet di Kota Tebing Tinggi.
Memasuki Babak Sulit
Setelah menjalani perjalanan panjang selama puluhan tahun, PT Adei kemudian menghadapi persoalan hukum dan keuangan.
Perkembangan penting terjadi pada 2024 ketika Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Medan memutus perkara kepailitan PT Adei Crumb Rubber Industry.
Dalam putusan Nomor 2/Pdt.Sus-PKPU/2024/PN Niaga Mdn, yang diputus pada 31 Mei 2024, pengadilan menyatakan PT Adei Crumb Rubber Industry berada dalam keadaan pailit dengan segala akibat hukumnya.
Perkara tersebut menandai babak baru yang berbeda dari sejarah panjang perusahaan sebagai industri pengolahan karet.
Berlanjut ke Tingkat Banding
Perkara tersebut tidak berhenti pada putusan tingkat pertama.
Direktori Putusan Mahkamah Agung mencatat adanya perkara 614/PDT/2025/PT MDN yang diajukan oleh PT Adei Crumb Rubber Industry terhadap Tim Kurator PT Adei Crumb Rubber Industry dalam pailit serta Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Negara dan Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Pematang Siantar.
Perkara banding tersebut tercatat diputus oleh Pengadilan Tinggi Medan pada 28 Oktober 2025.
Dengan demikian, perkembangan hukum perusahaan menjadi bagian dari babak terbaru perjalanan PT Adei setelah lebih dari tujuh dekade sejak didirikan pada 1954.
Jejak Panjang Industri Karet Tebing Tinggi
Sejarah PT Adei Crumb Rubber Industry memperlihatkan perjalanan sebuah perusahaan yang mengalami perubahan dari perusahaan perdagangan menjadi industri pengolahan karet dan eksportir.
Dari ADEI Trading Company Limited pada 1954, kemudian mengalami beberapa perubahan nama dan arah usaha, perusahaan akhirnya dikenal sebagai PT Adei Crumb Rubber Industry yang menjalankan kegiatan pengolahan karet remah di Tebing Tinggi.
Selama puluhan tahun, perusahaan menjadi bagian dari rantai industri karet alam Indonesia dan terhubung dengan petani, perkebunan, tenaga kerja, industri manufaktur serta pasar ekspor.
Namun, perjalanan tersebut kemudian memasuki fase baru setelah perusahaan menghadapi persoalan kepailitan pada 2024 dan proses hukum lanjutan pada 2025.
Kisah PT Adei pada akhirnya tidak hanya menjadi sejarah sebuah perusahaan, tetapi juga mencerminkan perjalanan industri karet Indonesia—dari berkembangnya pengolahan komoditas perkebunan, ekspansi pasar ekspor, modernisasi teknologi, hingga tantangan bisnis yang dihadapi industri pengolahan karet dalam mempertahankan keberlangsungan usahanya.




















Tinggalkan Balasan