Tandaglobal.news | Lumajang — Kawasan Djatiroto, Lumajang, pada awal abad ke-20 bukanlah wilayah perkebunan seperti yang dikenal masyarakat saat ini.

Daerah tersebut dahulu berupa hamparan rawa luas yang dikelilingi hutan jati dengan kondisi tanah basah, drainase buruk, serta sering mengalami genangan akibat luapan air.

Namun, kawasan yang dianggap sulit dikembangkan itu kemudian berubah menjadi salah satu sentra industri gula terbesar di Indonesia melalui rekayasa lahan dan pembangunan sistem pengairan yang terencana.

Sebelum industri gula modern berkembang, masyarakat sekitar Djatiroto sebenarnya telah mengenal budidaya tebu.

Sejak 1832, pengusaha Tionghoa telah menyewa tanah di wilayah Kaliboto Lor untuk menanam tebu dalam skala terbatas.

Ketika perdagangan gula mulai menunjukkan keuntungan besar, perusahaan Belanda mulai melihat potensi kawasan tersebut.

Salah satu perusahaan yang kemudian mengembangkan industri gula di Djatiroto adalah Handels Vereeniging Amsterdam (HVA) dengan skala produksi yang jauh lebih besar.

Perubahan besar kawasan Djatiroto dimulai pada 1901 ketika HVA memutuskan membuka lahan rawa di wilayah Ranupakis dan Djatiroto.

Perusahaan tersebut melakukan berbagai pekerjaan besar, mulai dari pembukaan hutan, pengeringan rawa, hingga pembangunan jaringan kanal untuk mengendalikan aliran air.

Pada periode 1901 hingga 1905, ribuan pekerja terlibat dalam proses transformasi kawasan tersebut.

Mereka membersihkan hutan jati dan menggali saluran air agar wilayah rawa yang sebelumnya sulit dimanfaatkan dapat berubah menjadi lahan pertanian produktif.

Upaya tersebut perlahan menunjukkan hasil ketika Pabrik Gula Ranupakis mulai beroperasi pada 1910 sebagai bagian dari pengembangan industri gula di kawasan Djatiroto.

Lima tahun kemudian, pada 1915, Pabrik Gula Djatiroto di Kaliboto Lor mulai beroperasi.

Lokasi tersebut dipilih karena memiliki karakter tanah yang subur dan dinilai sesuai untuk pengembangan tanaman tebu dalam skala besar.

Keberhasilan pembangunan industri gula Djatiroto tidak hanya bergantung pada kondisi tanah, tetapi juga pada kemampuan mengelola sistem pengairan.

Pembangunan Bendungan Bondoyudo menjadi salah satu faktor penting dalam mengendalikan banjir sekaligus menyediakan kebutuhan air bagi perkebunan tebu.

Melalui sistem irigasi dan drainase yang terencana, kawasan rawa yang sebelumnya tidak stabil akhirnya mampu menjadi lahan perkebunan dengan kondisi kelembapan tanah yang sesuai untuk tanaman tebu.

Meski demikian, perubahan besar tersebut tidak berjalan tanpa tantangan.

Transformasi lahan rawa juga membawa dampak sosial dan lingkungan, termasuk perubahan tata ruang serta perpindahan sebagian masyarakat dari wilayah yang dikembangkan.

Dari sisi teknologi pertanian, Djatiroto membuktikan bahwa kawasan rawa bukanlah lahan yang tidak memiliki nilai ekonomi.

Dengan perencanaan, rekayasa air, dan pengelolaan yang tepat, lahan basah dapat diubah menjadi kawasan produktif.

Kisah Djatiroto juga memberikan pelajaran bagi pengembangan kawasan pertanian modern, termasuk wilayah lahan basah seperti Merauke.

Pengembangan kawasan serupa membutuhkan perencanaan sistem air yang matang, pemilihan lokasi yang tepat, penggunaan varietas tanaman yang sesuai, serta kajian lingkungan agar pembangunan tetap berkelanjutan.

Transformasi Djatiroto menunjukkan bahwa keterbatasan alam bukan selalu menjadi hambatan.

Dengan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengelolaan yang tepat, kawasan yang dahulu berupa rawa dapat berubah menjadi salah satu pusat produksi tebu penting di Indonesia.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.