Tandaglobal.news | Mojokerto — Pabrik Gula (PG) Brangkal yang berdiri di tepi Sungai Brantas, Mojokerto, pernah menjadi salah satu pusat industri gula penting pada masa kolonial Belanda.

Sebagai bagian dari jaringan Eschauzier Concern yang juga mengelola PG Dinoyo dan PG Sentanen Lor, pabrik tersebut menjadi simbol berkembangnya industri gula sejak sekitar dekade 1860-an.

Di balik aktivitas produksi yang besar, kehidupan para buruh di PG Brangkal dikisahkan tidak lepas dari tekanan pekerjaan dan kerasnya sistem kolonial.

Dalam kisah berlatar musim giling tahun 1912, beban kerja tinggi, upah terbatas, serta minimnya perhatian terhadap keselamatan kerja menjadi gambaran kondisi yang dihadapi para pekerja.

Salah satu tokoh dalam kisah tersebut adalah Sarman, buruh pengangkut tebu asal Desa Gemekan yang bekerja di PG Brangkal sejak usia muda untuk menghidupi keluarganya.

Setiap hari Sarman berangkat bekerja sebelum matahari terbit, sementara istrinya, Lastri, menyiapkan bekal sederhana dan putra mereka, Narpati, masih terlalu kecil untuk memahami kerasnya kehidupan sang ayah.

Di lingkungan pabrik, para buruh berada di bawah pengawasan mandor Belanda yang digambarkan bernama De Wit.

Sosok De Wit dikenal tegas dan keras dalam menerapkan disiplin kerja kepada para pekerja pabrik.

Keterlambatan maupun hambatan produksi disebut sering berujung pada hukuman di hadapan para buruh lainnya.

Kisah tersebut mencapai puncaknya pada 16 Juli 1912 ketika gilingan utama dilaporkan mengalami gangguan.

Dalam tekanan untuk memenuhi target produksi, para pekerja tetap diminta melakukan perbaikan mesin.

Dalam cerita itu, seorang masinis senior bernama Pak Wiryo mengalami kecelakaan fatal setelah rantai logam putus dan menyeretnya ke bagian mesin yang masih berputar.

Peristiwa tersebut kemudian disebut hanya dicatat sebagai “kelalaian pekerja lokal” dalam laporan resmi perusahaan.

Catatan tersebut memunculkan rasa ketidakadilan di kalangan para buruh yang menyaksikan kejadian tersebut.

Sarman diceritakan menjadi salah satu pekerja yang melihat langsung kecelakaan yang menimpa Pak Wiryo.

Upayanya menyampaikan protes tidak membuahkan hasil karena setiap bentuk perlawanan disebut segera ditekan oleh aparat kolonial.

Ketegangan kemudian memuncak pada 3 Agustus 1912 ketika Sarman terlibat pertengkaran dengan De Wit di gudang suku cadang pabrik.

Keesokan harinya, De Wit ditemukan meninggal dunia dengan luka tusuk, sementara sebilah pisau tebas tebu berada di dekat lokasi kejadian.

Tanpa proses penyelidikan yang digambarkan berlangsung secara terbuka, Sarman kemudian ditangkap dan dibawa ke pos militer.

Dalam narasi tersebut disebutkan bahwa catatan perusahaan hanya memuat kalimat singkat, yakni “Buruh lokal hilang dalam proses pengamanan”, tanpa penjelasan lebih lanjut mengenai nasibnya.

Di sisi lain, Lastri dan putranya dikisahkan menunggu kepulangan Sarman yang tidak pernah kembali.

Narpati kemudian tumbuh hanya dengan cerita mengenai ayahnya yang dikenang sebagai seorang pekerja yang berusaha mempertahankan harga dirinya di tengah kerasnya kehidupan masa kolonial.

PG Brangkal sendiri masih terus beroperasi pada tahun-tahun berikutnya sebagai bagian dari perkembangan kawasan industri gula di Mojokerto.

Seiring perkembangan kawasan tersebut, Rumah Sakit Gatoel berdiri untuk melayani kebutuhan kesehatan para pekerja.

Deretan rumah bergaya kolonial di kawasan yang kini menjadi Jalan Hayam Wuruk, Kota Mojokerto, masih menjadi bagian dari jejak sejarah perkembangan industri gula di wilayah tersebut.

Kisah mengenai PG Brangkal menggambarkan bahwa sejarah industri gula tidak hanya berbicara tentang peningkatan produksi dan kemajuan ekonomi.

Sejarah tersebut juga menyimpan cerita mengenai kehidupan para pekerja yang menjadi bagian penting dari roda industri pada masa kolonial.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.