
Nuri Dahi Biru Kembali Ditemukan di Pulau Buru Setelah Hampir Seabad Hilang
TandaGlobalNews | Jakarta – Burung nuri dahi biru, salah satu spesies burung paling langka di Indonesia, kembali ditemukan di Pulau Buru setelah hampir satu abad tidak tercatat keberadaannya. Burung endemik yang hanya hidup di pulau tersebut sebelumnya sempat dikhawatirkan telah punah.
Penemuan kembali spesies langka itu terjadi pada April 2026 melalui ekspedisi yang dipimpin kelompok pendaki gunung asal Indonesia. Dalam ekspedisi tersebut, tim berhasil mengabadikan foto pertama burung nuri dahi biru dalam kurun 12 tahun terakhir sekaligus merekam suara kicauannya yang bernada tinggi saat berkomunikasi di kanopi hutan.
Burung tersebut dikenali dari ciri khas tubuh berwarna hijau cerah, paruh oranye, mahkota bagian belakang berwarna biru, serta ekor yang meruncing.
“Ketika Anda mencari burung yang hanya pernah didokumentasikan sekali dalam satu abad terakhir, rasanya seperti sebuah spekulasi fana,” ujar John Mittermeier, Direktur Search for Lost Birds di American Bird Conservancy, dikutip dari The Independent, Kamis (11/6).
Nuri dahi biru pertama kali dideskripsikan berdasarkan tujuh spesimen yang dikumpulkan pada dekade 1920-an. Setelah itu, keberadaannya tidak pernah tercatat selama hampir 90 tahun meski berbagai pencarian telah dilakukan di kawasan hutan dataran rendah dan menengah. Burung ini sempat muncul kembali dalam satu dokumentasi foto pada 2014.
Keberhasilan ekspedisi terbaru memperkuat dugaan bahwa spesies tersebut memang hidup di kawasan dataran tinggi yang sebelumnya belum dapat dijangkau. Jalur menuju lokasi penemuan baru berhasil dipetakan oleh para pendaki lokal.
Menurut Mittermeier, tim harus melewati medan kapur yang curam, tebing, bebatuan tajam, serta minim sumber air selama ekspedisi berlangsung. Ia menegaskan identifikasi burung tersebut sangat meyakinkan karena tidak ada spesies lain di Pulau Buru yang memiliki karakteristik serupa.
Selama perjalanan, tim mencatat sedikitnya sembilan individu nuri dahi biru berhasil diamati.
James Eaton yang turut mengikuti ekspedisi mengungkapkan tim harus menghadapi hujan, sungai berarus deras, batuan kapur yang tajam, serta tidak adanya jalur pendakian selama sekitar satu pekan sebelum akhirnya menemukan burung langka tersebut.
Saat ini, nuri dahi biru masih berstatus kekurangan data (Data Deficient) dalam Daftar Merah IUCN. Spesies ini juga telah dimasukkan sebagai salah satu spesies hilang oleh Search for Lost Birds sejak 2024.
Mittermeier menegaskan penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui ukuran populasi serta mengidentifikasi berbagai ancaman yang dihadapi spesies tersebut sebagai dasar penyusunan langkah-langkah konservasi di masa mendatang.




















Tinggalkan Balasan