
Tandaglobal.news | Probolinggo — Narasi berjudul “Manis yang Dibayar Darah” kembali menjadi perhatian setelah dibagikan melalui media sosial pada Rabu (22/07/2026) dengan mengangkat gambaran kehidupan masyarakat saat awal pembangunan Pabrik Gula (PG) Gending pada era kolonial Belanda.
Cerita tersebut mengambil latar awal dekade 1830-an ketika pemerintah kolonial mulai memperluas industri gula di Pulau Jawa.
Dalam narasi itu, pembangunan pabrik disebut membawa perubahan besar bagi masyarakat, termasuk alih fungsi lahan pertanian dan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja.
Kisah tersebut berpusat pada tokoh Ki Suro, seorang petani yang digambarkan kehilangan sawahnya dan dipaksa ikut bekerja dalam pembangunan pabrik.
Melalui sudut pandang tokoh tersebut, cerita menggambarkan penderitaan para pekerja yang menghadapi pekerjaan berat di bawah pengawasan ketat pihak kolonial.
“Pabrik dibangun bukan hanya dengan batu dan bata, tetapi juga dengan pengorbanan masyarakat yang kehilangan tanah dan tenaga,” demikian pesan utama yang disampaikan dalam narasi tersebut.
Cerita itu juga mengisahkan proses pengangkutan mesin uap berukuran besar dari Surabaya menuju Probolinggo yang disebut berlangsung dengan berbagai kesulitan.
Para pekerja dalam narasi digambarkan harus menarik peralatan berat melewati jalan berlumpur hingga menyeberangi sungai yang sedang meluap.
Selain pengangkutan mesin, pembangunan gedung pabrik juga diceritakan menggunakan bata yang diproduksi oleh masyarakat setempat.
Para pekerja, termasuk perempuan desa, disebut ikut memikul material bangunan demi menyelesaikan pembangunan fasilitas industri tersebut.
“Bata ini berasal dari tanah kami sendiri,” demikian ungkapan tokoh Ki Suro yang menjadi simbol penderitaan masyarakat dalam cerita.
Pada bagian akhir narasi, masyarakat digambarkan melakukan penolakan terhadap pembangunan pabrik yang berujung pada bentrokan dengan aparat kolonial.
Setelah pembangunan selesai pada 1832, pabrik mulai beroperasi sementara tokoh utama memilih meninggalkan kampung halamannya.
“Manisnya gula, menurut narasi ini, tidak lepas dari pengorbanan masyarakat yang kehilangan tanah, tenaga, bahkan anggota keluarganya,” demikian pesan yang ingin disampaikan penulis cerita.
Narasi tersebut menggambarkan sisi kemanusiaan di balik perkembangan industri gula pada masa kolonial.
Melalui tokoh dan alur cerita yang bersifat dramatik, penulis berusaha mengajak pembaca memahami dampak sosial yang mungkin dirasakan masyarakat ketika proyek industri besar mulai dibangun di berbagai wilayah Jawa.
Namun, sejumlah unsur dalam cerita seperti tokoh Ki Suro, Pieter van Hoek, dialog, serta rincian peristiwa yang diceritakan belum dapat diverifikasi melalui arsip sejarah resmi.
Karena itu, kisah tersebut lebih tepat dipandang sebagai narasi fiksi berlatar sejarah atau historical fiction yang terinspirasi dari perkembangan industri gula pada masa kolonial.
Narasi tersebut bukan merupakan laporan sejarah yang telah terbukti secara faktual, melainkan cerita yang menggambarkan gambaran sosial tentang perubahan masyarakat di sekitar industri gula pada masa lalu.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan