
Tandaglobal.news | Jakarta — Pemerintah Indonesia terus mendorong penggunaan kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) sebagai bagian dari strategi mengurangi emisi karbon dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Sejak 2019, pemerintah memberikan berbagai insentif untuk mempercepat adopsi kendaraan listrik, mulai dari keringanan pajak, subsidi kendaraan berbasis baterai, hingga pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di sejumlah wilayah.
Artikel ini diperbarui pada Kamis, 23 Juli 2026.
Pada 2025, dukungan anggaran untuk program kendaraan listrik disebut mencapai sekitar Rp11,4 triliun untuk menekan emisi transportasi, mengurangi konsumsi BBM impor, serta membangun industri otomotif berbasis teknologi masa depan.
Namun, sejumlah kajian energi mulai menyoroti alternatif lain dalam transisi energi, yaitu pengembangan bahan bakar nabati berbasis bioetanol.
Pandangan tersebut menilai Indonesia memiliki peluang mengembangkan energi berbasis pertanian yang sesuai dengan karakter negara tropis.
Sejumlah kajian energi juga menilai kendaraan listrik belum sepenuhnya bebas emisi karena sumber energi yang digunakan masih berasal dari pembangkit listrik berbasis fosil.
Saat ini, sebagian besar pasokan listrik Indonesia masih bergantung pada batu bara sehingga kendaraan listrik tetap memiliki jejak karbon dari proses pembangkitan listrik dan produksi baterai.
Kendaraan listrik memang tidak menghasilkan emisi langsung dari knalpot, tetapi proses produksinya masih berkaitan dengan penggunaan energi dan sumber daya tertentu.
Produksi baterai kendaraan listrik juga membutuhkan bahan tambang seperti litium dan kobalt yang proses pengolahannya membutuhkan energi besar serta memiliki dampak lingkungan tersendiri.
Di tengah perkembangan kendaraan listrik global, Brasil menjadi salah satu contoh negara tropis yang memilih jalur berbeda melalui pengembangan bioetanol berbasis tebu.
Brasil mengembangkan kendaraan berbahan bakar fleksibel atau flex-fuel yang mampu menggunakan campuran bensin dan etanol.
Strategi tersebut membuat masyarakat Brasil memiliki pilihan bahan bakar sesuai kondisi ekonomi dan ketersediaan energi.
Pada 2020, konsumsi bensin di Brasil berhasil digantikan oleh etanol dalam jumlah besar dengan puluhan juta kendaraan flex-fuel telah beroperasi di jalan raya.
Keunggulan bioetanol berbasis tebu terletak pada kemampuan tanaman menyerap karbon selama proses pertumbuhan.
Dalam sejumlah perhitungan emisi siklus hidup, etanol tebu disebut memiliki tingkat emisi lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil konvensional.
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa teknologi ramah lingkungan tidak hanya ditentukan oleh bentuk kendaraan, tetapi juga oleh sumber energi yang digunakan dalam proses produksi hingga pemakaian.
Konsep tersebut dikenal sebagai well-to-wheel yang melihat seluruh rantai energi dari sumber awal hingga penggunaan akhir.
Selain aspek lingkungan, bioetanol juga memiliki keunggulan dari sisi infrastruktur karena dapat memanfaatkan jaringan distribusi bahan bakar yang telah tersedia.
Pengembangan kendaraan berbasis etanol tidak membutuhkan pembangunan jaringan pengisian listrik dalam jumlah besar seperti kendaraan listrik berbasis baterai.
Penyesuaian dapat dilakukan melalui infrastruktur SPBU yang sudah tersebar di berbagai daerah.
Indonesia dinilai memiliki peluang besar dalam pengembangan energi berbasis bioetanol karena memiliki sumber bahan baku melimpah.
Sumber tersebut berasal dari komoditas seperti tebu, singkong, limbah pertanian, hingga biomassa lignoselulosa.
Potensi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk membangun industri energi dalam negeri sekaligus menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian.
Selain kendaraan berbahan bakar etanol, perkembangan teknologi hybrid berbasis biofuel juga mulai menjadi perhatian.
Teknologi tersebut menggabungkan mesin berbahan bakar etanol dengan sistem listrik internal sehingga mampu menghadirkan efisiensi tinggi tanpa membutuhkan infrastruktur pengisian daya sebesar kendaraan listrik murni.
Sejumlah pengamat energi menilai Indonesia perlu melihat transisi energi berdasarkan kondisi geografis, sumber daya alam, dan kemampuan ekonomi nasional.
Jalur elektrifikasi kendaraan tetap dapat berjalan, tetapi pengembangan bioetanol berbasis pertanian dan biomassa dinilai dapat menjadi pilihan tambahan untuk mempercepat transportasi rendah emisi.
Dengan kekayaan sumber daya hayati yang dimiliki, Indonesia memiliki peluang membangun model transisi energi yang menggabungkan teknologi modern dengan kekuatan sektor pertanian.
Antara ladang tebu, singkong, biomassa, dan charging station, masa depan transportasi hijau Indonesia dinilai tidak harus memilih satu jalan saja.
Berbagai solusi energi dapat dikembangkan secara bersamaan sesuai kebutuhan dan kondisi nasional.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan