Mengulik Jejak Penangkaran Rusa Brigif Kota Kediri: Transformasi dari Penyelamatan Menjadi Destinasi Wisata Edukasi

Pengunjung memberi makan rusa di Penangkaran Rusa Brigif 16/Wira Yudha, Kota Kediri. (Dok. Tandaglobal.news/Maya Rahmawati)

Tandaglobal.news | Kediri – Di tengah hiruk-pikuk Kota Kediri, terdapat sebuah penangkaran rusa di kawasan Markas Brigif 16/Wira Yudha yang kini menjadi salah satu destinasi wisata edukasi favorit masyarakat. Di balik fungsinya sebagai tempat rekreasi, penangkaran ini menyimpan sejarah panjang yang berawal dari upaya penyelamatan rusa yang didatangkan dari luar daerah.

Mulyo, selaku pengelola, menjelaskan bahwa penangkaran tersebut pada awalnya tidak dirancang sebagai objek wisata. Rusa-rusa yang kini menghuni kawasan tersebut didatangkan dari luar Pulau Jawa dan ditempatkan di lingkungan Brigif untuk dipelihara.

Seiring berjalannya waktu, keberadaan rusa-rusa tersebut menarik perhatian masyarakat. Banyak warga mulai berdatangan untuk melihat secara langsung hingga akhirnya kawasan itu berkembang menjadi tempat wisata edukasi yang terbuka bagi pengunjung.

Selain menjadi lokasi rekreasi keluarga, penangkaran rusa juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi bagi anak-anak. Interaksi langsung dengan satwa diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus memberikan pengalaman belajar mengenai konservasi.

Tak hanya itu, kawasan ini juga dimanfaatkan sebagai lokasi terapi bagi penyandang disabilitas, khususnya anak dengan autisme. Aktivitas memberi makan rusa menjadi salah satu bentuk terapi perilaku yang dinilai mampu memberikan manfaat bagi perkembangan psikologis dan sosial.

Saat ini, populasi rusa di penangkaran Brigif telah mencapai sekitar 80 ekor. Jumlah tersebut membuat proses perawatan dilakukan secara rutin dan teliti agar kondisi kesehatan seluruh rusa tetap terjaga.

Menurut Mulyo, perawatan rusa dilakukan setiap hari dengan pola yang teratur agar kondisi fisik satwa tetap prima dan perkembangan populasinya dapat dikendalikan.

“Untuk memastikan kesehatan dan populasi rusa tetap terjaga, pengelola menerapkan pola perawatan yang teratur, mulai dari pemberian pakan terjadwal pada pagi dan sore hari serta penambahan vitamin ke dalam air minum untuk meningkatkan daya tahan tubuh hewan,” ungkap Mulyo.

Baca Juga  Menggali Kebutuhan Modal Pengemudi Ojol di Kediri: Peluang Pemanfaatan KUR untuk Kesejahteraan Keluarga

Ia menambahkan, pengelola juga melakukan pengaturan reproduksi sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan populasi di dalam penangkaran.

“Selain itu, pengelola juga melakukan manajemen kelahiran yang terukur sebagai upaya untuk menjaga agar pertumbuhan populasi rusa di penangkaran tetap terkendali dan sehat,” lanjutnya.

Meski terbuka untuk umum, pengelola menerapkan sejumlah aturan ketat demi menjaga keselamatan rusa. Kebijakan tersebut diterapkan berdasarkan pengalaman sebelumnya, ketika beberapa rusa mati akibat mengonsumsi pakan yang tidak higienis maupun menelan benda asing.

Karena itu, setiap pengunjung yang ingin memberi makan rusa diwajibkan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan oleh pengelola.

“Demi menjamin kesehatan dan keselamatan rusa, pihak pengelola menerapkan aturan ketat bagi pengunjung yang ingin berinteraksi dengan hewan, di antaranya adalah kewajiban mencuci bersih pakan yang dibawa dari rumah untuk meminimalisir risiko keracunan akibat sisa pestisida pada sayuran,” jelas Mulyo.

Selain memastikan kebersihan pakan, pengelola juga melarang penggunaan tali pengikat pada sayuran atau pakan yang diberikan kepada rusa.

“Selain itu, pengunjung dilarang keras menggunakan tali pengikat pada pakan karena risiko fatal tertelan oleh rusa yang dapat menyebabkan penyumbatan sistem pencernaan dan berujung pada kematian,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, para penjaga di lokasi juga aktif memberikan edukasi kepada setiap pengunjung sebelum mereka berinteraksi dengan rusa.

“Sebagai langkah preventif, para penjaga di lokasi senantiasa proaktif memberikan edukasi kepada setiap pengunjung mengenai prosedur pemberian makan yang benar dan aman, guna memastikan bahwa interaksi yang dilakukan tidak membahayakan populasi rusa yang ada di penangkaran,” pungkasnya.

Penangkaran rusa Brigif menjadi lebih ramai saat musim liburan sekolah, akhir pekan, maupun hari libur nasional. Kawasan ini dibuka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga menjelang waktu Maghrib.

Baca Juga  Sensus Ekonomi 2026 di Kabupaten Kediri Mulai Digelar, Seluruh Sektor Usaha Akan Didata

Pengunjung dapat membeli pakan dengan harga yang terjangkau. Jagung dijual seharga Rp2.000, sedangkan kangkung tersedia dengan harga mulai Rp1.000, sehingga masyarakat dapat memberi makan rusa secara langsung dengan tetap mematuhi aturan yang berlaku.

Menurut Mulyo, penyebaran informasi melalui media sosial, terutama TikTok, turut membantu memperkenalkan penangkaran rusa kepada masyarakat yang lebih luas. Hal tersebut menjadi salah satu bentuk adaptasi pengelola dalam memanfaatkan perkembangan teknologi digital untuk mendukung pelestarian rusa sekaligus mendorong kunjungan wisata.

Ke depan, pengelola berharap penangkaran rusa Brigif Kota Kediri dapat terus berkembang sebagai sarana konservasi, edukasi, dan wisata keluarga yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta menjaga kelestarian populasi rusa secara berkelanjutan.


Jurnalis: Maya Rahmawati

administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *