Situs Sejarah Gua Selomangleng, Jejak Pertapaan Dewi Kilisuci yang Tetap Terjaga hingga Kini

Tandaglobal.news | KEDIRI – Di tengah pesatnya perkembangan modernisasi, Gua Selomangleng tetap berdiri kokoh sebagai salah satu situs bersejarah di Kota Kediri yang menyimpan nilai spiritual, budaya, dan sejarah. Gua batu yang ikonik ini tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga menjadi saksi perjalanan sejarah yang berkaitan dengan kisah pertapaan Dewi Kilisuci.

Berdasarkan sejarah yang berkembang di masyarakat, Gua Selomangleng diyakini sebagai tempat pertapaan Dewi Kilisuci, putri dari Raja Airlangga. Dewi Kilisuci dikenal sebagai sosok yang memilih jalan kehidupan spiritual. Ia menolak tahta kerajaan yang diwariskan kepadanya dan memilih meninggalkan kehidupan istana untuk bertapa demi mencari ketenangan batin.

Hingga kini, keberadaan situs bersejarah tersebut terus dijaga agar tetap lestari. Salah satu sosok yang memiliki peran penting dalam pelestariannya adalah Dewi Handayani, juru pelihara Gua Selomangleng.

Selama 20 tahun, Dewi Handayani telah mendedikasikan waktu dan tenaganya untuk merawat sekaligus menjaga kelestarian kawasan yang juga dikenal sebagai salah satu situs bersejarah di Kota Kediri tersebut.

“Daya tarik utama yang membuat para wisatawan datang ke Gua Selomangleng adalah kombinasi kuat antara keindahan alam yang asri serta atmosfer spiritual yang sangat kental di sekitar lokasi,” jelasnya saat ditemui, Selasa (7/7/2026).

Untuk menunjang kenyamanan wisatawan, kawasan Gua Selomangleng telah dilengkapi berbagai fasilitas pendukung. Mulai dari kamar mandi, area bermain anak, kolam renang, hingga museum yang menyimpan beragam koleksi benda bersejarah.

Keberadaan museum tersebut menjadi pelengkap pengalaman wisata. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati keindahan kawasan gua, tetapi juga mempelajari sejarah dan nilai budaya yang melatarbelakangi keberadaan situs tersebut.

Dalam hal pelestarian, perawatan kawasan dilakukan secara rutin setiap hari. Petugas memastikan kebersihan area tetap terjaga sekaligus mengawasi aktivitas pengunjung agar tidak terjadi tindakan vandalisme, seperti mencoret dinding batu maupun merusak fasilitas yang ada.

Baca Juga  Diduga Berawal dari Pembakaran Sampah, Rumpun Bambu di Gampengrejo Terbakar

Selain perawatan harian, terdapat pula agenda pemeliharaan tahunan berupa pembersihan batu-batu gua secara menyeluruh. Kegiatan tersebut dilakukan setiap tahun dan disertai ritual adat yang rutin dilaksanakan pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa.

Menurut Dewi Handayani, pelestarian Gua Selomangleng bukan sekadar menjaga bangunan bersejarah, tetapi juga mempertahankan nilai budaya dan sejarah agar tetap dapat dipelajari oleh generasi mendatang.

“Situs ini diharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi muda atau anak-anak zaman sekarang untuk datang, melihat, dan mempelajari langsung akar sejarah bangsa, sehingga nilai-nilai luhur dan warisan budaya yang ada di dalamnya tidak akan pernah terlupakan atau tergerus oleh zaman,” ujarnya.

Melalui komitmen pelestarian yang terus dilakukan, Gua Selomangleng diharapkan tetap menjadi destinasi wisata sejarah sekaligus ruang edukasi yang mampu memperkenalkan warisan budaya Kota Kediri kepada masyarakat luas.


Jurnalis: Fitri Rahayu

administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *