Legenda Sendang Mantenan Jadi Daya Tarik Wisata Ubalan Kediri

Tandaglobal.news | KEDIRI — Wisata Ubalan yang dahulu dikenal sebagai Sendang Mantenan tidak hanya menawarkan kesegaran mata air alami, tetapi juga menyimpan sejarah panjang dan legenda yang masih dipercaya masyarakat hingga kini. Keberadaan cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke objek wisata di Kabupaten Kediri tersebut.

Koordinator Objek Wisata Ubalan, Asmanu, menjelaskan bahwa nama Ubalan berasal dari istilah Jawa mubal-mubal, yang berarti air memancar deras dari dalam tanah. Sebelum dikenal dengan nama Ubalan, kawasan ini lebih dahulu disebut Sendang Mantenan yang memiliki kisah legenda tentang Joko Kendam dan Asmorodono.

“Nama Ubalan itu berasal dari air yang terus memancar dari dalam tanah atau mubal-mubal. Dari situlah masyarakat kemudian mengenalnya sebagai Ubalan,” kata Asmanu, Senin (7/7/2026).

Menurut Asmanu, kawasan pemandian ini juga memiliki nilai sejarah karena dulunya merupakan bangunan peninggalan zaman kolonial Belanda. Pada masa awal, masyarakat datang untuk melihat saluran air kuno yang masih berfungsi dengan baik. Seiring meningkatnya jumlah pengunjung, kawasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi objek wisata yang dilengkapi berbagai fasilitas hingga menjadi destinasi favorit seperti saat ini.

Legenda Sendang Mantenan berawal dari wilayah Panjer yang kini masuk kawasan Kabupaten Jombang. Dikisahkan, Adipati Panjer mengadakan sayembara sabung ayam. Joko Kendam dari Kepung ikut serta, namun ayamnya kalah dan berlari hingga memasuki kawasan Kaputren. Di tempat itulah ayam tersebut ditangkap oleh Asmorodono, selir sang Adipati. Asmorodono kemudian meminta Joko Kendam membawanya melarikan diri karena tidak ingin tetap menjadi selir.

Perjalanan pelarian mereka dipercaya menjadi asal-usul sejumlah nama desa di sekitar kawasan tersebut. Desa Njarak disebut berasal dari upaya prajurit mengukur jarak pelarian pasangan itu, sedangkan nama Gondang dikaitkan dengan aksi kejar-kejaran atau godak-godakan. Dalam perjalanan itu pula terdapat petilasan Ki Ageng Kenep yang diyakini menjadi lokasi ketika Joko Kendam menancapkan tongkat menyerupai dirinya untuk mengelabui para pengejar.

Baca Juga  Dinas Pendidikan Siapkan 25 Guru untuk Sekolah Rakyat Kabupaten Kediri, Fasilitas Asrama Siap Digunakan

Cerita berlanjut hingga kawasan Kayunan yang dipercaya menjadi lokasi pertempuran antara Joko Kendam dan Adipati Panjer. Setelah Adipati gugur, Joko Kendam kembali menjemput Asmorodono. Saat keduanya dikepung oleh sisa prajurit, mereka memilih melompat ke dalam umbul atau mata air hingga akhirnya dipercaya moksa atau menghilang bersama. Peristiwa inilah yang kemudian menjadi asal-usul nama Sendang Mantenan.

Selain kisah sejarahnya, Sendang Mantenan juga masih lekat dengan berbagai mitos yang berkembang di masyarakat. Salah satunya adalah kepercayaan bahwa pasangan yang membasuh wajah atau mandi di sendang tersebut akan memperoleh hubungan yang harmonis dan langgeng. Meski demikian, Asmanu menegaskan bahwa hal tersebut merupakan bagian dari cerita yang diwariskan secara turun-temurun.

“Percaya atau tidak itu kembali kepada masing-masing pengunjung. Kami hanya menyampaikan cerita yang memang sudah hidup di masyarakat sejak dulu,” ujar Asmanu.

Menurutnya, keberadaan legenda tersebut menjadi nilai tambah bagi Wisata Ubalan yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga edukasi sejarah dan budaya. Dengan kekayaan cerita rakyat yang dimiliki, Wisata Ubalan menjadi destinasi yang memadukan wisata alam, sejarah, dan kearifan lokal sehingga tetap menarik untuk dikunjungi sekaligus menjadi bagian dari upaya pelestarian budaya daerah.


Jurnalis: Maulana Rahmadha

administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *