Menghadapi Lonjakan Harga, Pedagang Pasar Tradisional Mengeluh Sepi Akibat Maraknya Kompetitor

Awik, pedagang pasar tradisional di Kediri, menunjukkan lapaknya. Ia mengaku jumlah pembeli menurun akibat kenaikan harga dan banyaknya kompetitor.
Foto: Fitri Rahayu/Tandaglobalnews

​Tandaglobalnews Kediri — Kondisi pasar tradisional saat ini dilaporkan mengalami kelesuan yang cukup dirasakan oleh para pedagang. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, penurunan aktivitas perdagangan ini dipicu oleh beberapa faktor, mulai dari harga barang yang tidak stabil hingga meningkatnya jumlah persaingan di sektor perdagangan pokok.
​Dilema Kenaikan Harga dan Persaingan Pasar


​Dalam sebuah wawancara bersama salah seorang pedagang yang bernama Pak Awik, ia mengonfirmasi bahwa suasana pasar saat ini memang sedang mengalami penurunan omzet atau sepi pembeli. Menurut penuturannya, salah satu penyebab utamanya adalah faktor persaingan yang semakin ketat.
​”Ah, ya. Ya agak berkurang (pembeli). Banyak saingan,” ungkap Pak Awik saat memberikan keterangan mengenai kondisi pasarnya.
​Selain faktor persaingan, fluktuasi harga komoditas yang cenderung terus merangkak naik juga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap daya beli masyarakat di pasar tradisional. “Harga terus naik. Itu kan berpengaruh besar,” tuturnya mengenai dampak ketidakstabilan harga pangan saat ini.


​Dampak Pasar Digital (Online) Bagi Pedagang Kecil


​Menanggapi maraknya tren pasar digital atau sistem belanja online saat ini, Pak Awik yang mengelola lapak dengan skala kecil mengaku tidak begitu merasakan dampak langsung yang masif. Baginya, pasar online memiliki segmennya sendiri, sementara usahanya yang berskala kecil tetap berjalan di jalurnya. ​”Nah, kalau saya kan enggak pengaruh, karena kecil-kecil. Paling ya yang berpengaruh itu grosir-grosir, agen,” jelas Pak Awik.


​Meskipun demikian, terdapat kesepahaman bahwa mayoritas masyarakat tetap lebih memilih untuk bertransaksi secara langsung (offline) di pasar tradisional jika dibandingkan dengan berbelanja kebutuhan pokok via daring. Hal ini dikarenakan belanja langsung memungkinkan konsumen untuk memeriksa kualitas fisik barang secara akurat, sekaligus menghindari risiko kekecewaan akibat barang yang tidak sesuai atau rusak yang kerap terjadi pada sistem belanja online.

Berita Terkait  Dukung Ketahanan Pangan, Polisi Kediri Dampingi Petani Bengkoang Hadapi Musim Kering

25 Tahun Bertahan di Pasar Tradisional


​Pak Awik merupakan salah satu pedagang yang memiliki dedikasi sangat tinggi. Ia tercatat telah menggantungkan hidupnya dan berjualan di pasar tersebut selama kurang lebih 25 tahun, tepatnya sejak tahun 1990-an silam.
​”Ya sudah lama saya. Tahun ’90-an sampai sekarang. Berarti 25 tahun lah,” kenang Pak Awik.
​Ia juga sedikit mengenang masa lalunya saat pasar tersebut sempat mengalami insiden kebakaran hebat di masa lalu. Sebelum menetap mengelola lapak makelar atau grosir seperti sekarang, Pak Awik mengawali karier berdagangnya di pasar dengan sistem keliling (ider).


​Lebih lanjut, ia merefleksikan bagaimana nilai mata uang dan harga barang telah melonjak berkali-kali lipat selama masa hidupnya berdagang. Ia mencontohkan, modal atau harga barang yang dahulu di tahun awal ia bekerja hanya berkisar senilai Rp250, kini nilainya telah berubah drastis menjadi Rp2.000, yang mengindikasikan adanya lonjakan inflasi hingga hampir puluhan kali lipat selama puluhan tahun ia mengabdi di pasar.

Jurnalis : Fitri Rahayu

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *