
Tandaglobalnews KEDIRI — Kondisi pasar loak tradisional dilaporkan terus mengalami penurunan aktivitas perdagangan yang cukup signifikan. Meskipun saat ini bertepatan dengan momentum tahun ajaran baru sekolah—di mana biasanya permintaan akan sepeda anak meningkat—sepi pembeli tetap menjadi keluhan utama para pedagang di lapangan.
Kondisi Pasar Sepi Pembeli
Dalam sebuah wawancara bersama salah seorang pedagang sepeda di pasar loak, Ibu Panya, ia membenarkan bahwa situasi pasar saat ini tergolong sangat lesu. “Sepi, Mbak. Ya seperti ini sepi. Kadang seminggu baru ada yang beli,” ungkap Ibu Panya saat dimintai keterangan mengenai kondisi penjualannya akhir-akhir ini
Keluhan Ibu Panya ini ternyata senada dengan pengakuan dari para pedagang pria lainnya yang berada di kawasan tersebut. Meskipun kebutuhan akan sepeda untuk anak-anak sekolah tergolong tinggi, ia menjelaskan bahwa dalam beberapa waktu terakhir omzet penjualannya terus mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun lalu.
Dari berbagai jenis variasi sepeda bekas yang disediakan, Ibu Panya menuturkan bahwa komoditas yang paling dicari atau paling laris adalah jenis sepeda anak-anak berukuran kecil, seperti ukuran 12 dan 20.
Dampak Kompetisi Belanja Online
Ketika dianalisis lebih lanjut mengenai penyebab utama penurunan omzet tersebut, Ibu Panya mengonfirmasi adanya pengaruh besar dari pergeseran tren belanja masyarakat ke platform digital. Banyaknya konsumen yang beralih melakukan transaksi secara online disinyalir menjadi pemicu lesunya pasar konvensional saat ini.
”Katanya banyak-banyak yang online, Mbak,” tuturnya mengenai alasan beralihnya para pembeli.
Padahal, ia menambahkan bahwa untuk jenis barang komoditas seperti sepeda bekas, sistem belanja online sebenarnya tidak bisa sepenuhnya menggantikan transaksi langsung (offline). Menurutnya, dengan datang langsung ke pasar loak, calon pembeli diuntungkan karena dapat memeriksa kualitas fisik barang serta kondisi asli sepeda secara langsung dan akurat sebelum memutuskan untuk membeli.
Satu Dekade Bertahan di Pasar Loak
Ibu Panya sendiri bukanlah sosok baru di kawasan perdagangan ini. Wanita yang juga bertempat tinggal langsung di area lapak dagangannya tersebut mengaku telah menggantungkan hidupnya dengan berjualan sepeda selama lebih dari 10 tahun.
Lebih lanjut, ia merefleksikan bahwa kelesuan pasar ini tidak hanya terjadi di pasar loak tempatnya berdiri saat ini, melainkan juga terjadi di Pasar Pemenang, tempat ia mengamati situasi serupa di mana para pedagang mengeluhkan hal yang sama. Selain akibat persaingan dengan pasar digital, kerusakan infrastruktur jalan di area pasar juga dinilai mempersulit akses masyarakat, sehingga turut andil membuat suasana pasar menjadi kian sepi.
Sebagai informasi, lapak dagangan milik Ibu Panya ini biasanya mulai beroperasi sejak pagi hari dan melayani pembeli hingga sore hari. Lapak tersebut biasanya tutup secara resmi pada pukul 15.00 WIB, namun terkadang ia tetap membuka aktivitas pelayanan hingga maksimal pukul 17.00 WIB.
Para pedagang kecil yang tersisa di pasar loak seperti Ibu Panya menaruh harapan besar agar eksistensi pasar tradisional ini dapat kembali dilirik oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang mencari alternatif transportasi berkualitas dengan harga yang terjangkau.
Jurnalis : Fitri Rahayu