Makam Eyang Sumantri Jadi Jejak Sejarah Desa Tiru Lor

Makam Eyang Agung Sumantri di Desa Tiru Lor, Kediri, menjadi jejak sejarah yang masih terawat.
(Foto: TGN/Intan Nur Aini)

Tandaglobal.news | KediriDesa Tiru Lor, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, tidak hanya dikenal sebagai wilayah pertanian yang produktif, tetapi juga menyimpan jejak sejarah yang masih terjaga hingga kini. Salah satu peninggalan bersejarah yang masih dipercaya dan dirawat masyarakat adalah situs punden atau makam leluhur yang berada di wilayah desa tersebut.

Sekretaris Desa Tiru Lor, Tur Agung, mengatakan situs bersejarah itu berada di wilayah Bolorejo. Masyarakat setempat mengenalnya sebagai Makam Eyang Agung Sumantri yang hingga kini masih menjadi bagian penting dari sejarah lokal desa.

Menurut Tur Agung, makam tersebut merupakan punden atau makam sepuh yang telah lama dikenal oleh warga sekitar. Keberadaan situs itu tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga mencerminkan keterikatan masyarakat dengan warisan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Hingga saat ini, keberadaan makam tersebut masih dihormati masyarakat sebagai bagian dari identitas sejarah desa.

“Situs ada di Bolorejo. Itu punden namanya, makam sepuh. Namanya Makam Eyang Agung Sumantri,” ujar Tur Agung saat ditemui, Jumat (26/6/2026).

Ia menjelaskan, kawasan di sekitar makam pada masa lalu juga menyimpan banyak peninggalan purbakala berupa batu-batu kuno yang diyakini memiliki nilai sejarah tinggi. Beberapa di antaranya adalah batu Lingga dan Yoni yang menjadi bukti adanya jejak sejarah masa lampau di wilayah tersebut.

Menurutnya, keberadaan berbagai peninggalan tersebut menjadi salah satu penanda bahwa kawasan itu pernah memiliki nilai historis yang penting. Meski belum seluruhnya terdokumentasi secara lengkap, cerita mengenai keberadaan benda-benda bersejarah itu masih terus diwariskan dari generasi ke generasi oleh masyarakat setempat.

Namun, seiring berjalannya waktu, sebagian besar benda bersejarah tersebut sudah tidak lagi ditemukan. Meski demikian, beberapa batu peninggalan masih tersisa dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Desa Tiru Lor.

Baca Juga  Gentengisasi Koperasi Masih Tahap Perencanaan, 344 Koperasi Kediri Berbadan Hukum

“Sebenarnya dulu banyak peninggalan berupa batu. Cuma sekarang habis, enggak tahu ke mana. Ada beberapa masih, batu-batu, Lingga, Yoni, itu masih ada,” jelasnya.

Selain memiliki potensi sejarah, Desa Tiru Lor juga dikenal memiliki kehidupan sosial masyarakat yang aktif. Berbagai organisasi kemasyarakatan, terutama organisasi keagamaan seperti NU, Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU, dan IPPNU, tumbuh serta berperan dalam mempererat kebersamaan warga melalui berbagai kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan.

Tur Agung berharap potensi sejarah yang dimiliki Desa Tiru Lor dapat terus dijaga bersama. Menurutnya, warisan budaya, kehidupan sosial yang solid, serta fasilitas pendidikan yang ada dapat menjadi modal penting dalam menjaga nilai-nilai budaya sekaligus mendorong kemajuan desa pada masa mendatang.

Ia juga berharap keberadaan situs bersejarah tersebut dapat terus dirawat dan dikenalkan kepada generasi muda sebagai bagian dari sejarah lokal yang patut dilestarikan. Dengan tetap menjaga peninggalan leluhur, masyarakat diharapkan tidak hanya mempertahankan identitas budaya desa, tetapi juga menumbuhkan kepedulian terhadap warisan sejarah yang menjadi bagian dari perjalanan panjang Desa Tiru Lor.


Penulis: Intan Nur Aini

administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *