Jaga Tradisi Leluhur, Mbah Tumijan 12 Tahun Setia Menjadi Juru Kunci Punden Dusun Sumberpetung

Tandaglobal.news | KEDIRI — Punden Dusun Sumberpetung, Desa Sempu, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, hingga kini tetap menjadi pusat spiritual dan budaya yang dijaga oleh masyarakat setempat. Di balik kelestarian punden yang memiliki nilai historis dan budaya tersebut, terdapat sosok Mbah Tumijan, pria kelahiran Ponorogo, 16 Agustus 1958, yang telah mengabdikan diri sebagai juru kunci selama kurang lebih 12 tahun.

Menurut Mbah Tumijan, punden tersebut merupakan tempat penghormatan kepada Mbah Danyang atau leluhur pertama yang membuka wilayah desa (babad desa). Karena itu, keberadaannya dianggap sebagai warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

“Itu leluhur kita. Jadi, mari kita uri-uri (melestarikan) adat Jawa, budaya Jawa, jangan sampai hilang atau punah,” ujar Mbah Tumijan saat ditemui di lokasi.

Setiap tahun, Punden Mbah Danyang yang memiliki nama asli Ki Ageng Tiyokromo menjadi lokasi utama pelaksanaan tradisi Bersih Desa dan Suronan, yang bertepatan dengan bulan Suro dalam penanggalan Jawa atau Tahun Baru Islam.

Mbah Tumijan menegaskan bahwa ritual yang dilakukan masyarakat bukanlah bentuk penyembahan kepada selain Tuhan. Tradisi tersebut merupakan sarana (pelantara) untuk memohon pembersihan diri dan lingkungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

“Semua minta penyembahan di Gusti Allah, itu hanya pelantara saja,” tegasnya.

Melalui tradisi tersebut, masyarakat berharap dijauhkan dari berbagai kesusahan, penyakit, maupun gangguan (seker sundep dan kolo), sehingga kehidupan warga menjadi lebih tenteram, aman, dan bersih. Selain itu, punden juga kerap didatangi warga yang ingin menggelar syukuran (selametan) sebagai ungkapan rasa syukur setelah sembuh dari penyakit atau ketika hajat yang diinginkan telah tercapai.

Sejak dipercaya menjadi juru kunci sekitar 12 tahun lalu, Mbah Tumijan menyebut kondisi fisik punden mengalami banyak perubahan. Jika sebelumnya area tersebut masih sangat sederhana dengan akses jalan yang belum memadai, kini lingkungan punden telah tertata lebih baik.

Baca Juga  Kota Kediri Siap Jadi Tuan Rumah Jamda RX King Jawa Timur, Targetkan 5.000 Peserta

Perbaikan itu dilakukan secara bertahap melalui swadaya masyarakat dan para pengunjung yang memberikan sumbangan sukarela saat mengadakan selametan. Nilai sumbangan yang terkumpul bervariasi, mulai dari Rp5.000 hingga Rp100.000.

“Alhamdulillah kita kumpulkan untuk membangun jalannya itu, saya cor. Terus untuk bikin rumah-rumahan untuk tempat selametan, itu juga dikumpulkan dikit-dikit untuk beli pasir, bata, semen,” kenang Mbah Tumijan.

Dari hasil gotong royong tersebut, masyarakat berhasil membangun akses jalan yang lebih layak, mendirikan bangunan sederhana sebagai tempat pelaksanaan selametan, hingga membangun dua gapura megah di sisi utara sebagai pintu masuk kawasan punden. Seluruh pembangunan dilakukan murni dari dana swadaya tanpa bantuan pihak luar.

Di akhir wawancara, Mbah Tumijan menyampaikan harapan agar generasi muda tetap menjaga dan melestarikan adat serta budaya Jawa. Menurutnya, nilai-nilai budaya yang diwariskan para leluhur harus terus dipertahankan seiring berkembangnya zaman. Ia juga mengajak masyarakat untuk senantiasa menjaga toleransi, saling menghormati, dan menghargai satu sama lain.

“Saya mengharapkan dengan sangat kepada anak cucu saya, bagi putra-putri saya, jangan sampai hilang adat budaya Jawa. Harus dilestarikan sekuat tenaga… Saya pesan jangan sampai menghilangkan adat Jawa, karena zaman dahulu kala sampai sekarang, tetap Jawa,” pungkasnya dengan penuh harap.


Jurnalis: Stefani Eka Shaputri

administrator

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *