Menghadapi Sepinya Wisata Lereng Gunung Kelud, Omset UMKM Supriani Menurun Drastis

Supriani, pedagang di kawasan wisata lereng Gunung Kelud, melayani pembeli di warungnya. Sepinya kunjungan wisatawan membuat omzet dagangannya menurun drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya. (Dok. Stefani Eka)

Tandaglobalnews KEDIRI – Kondisi sektor pariwisata di kawasan lereng Gunung Kelud, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, saat ini sedang mengalami kelesuan. Sepinya jumlah kunjungan wisatawan berdampak langsung pada penurunan omset para pelaku UMKM setempat, salah satunya adalah Supriani.

Supriani merupakan warga asli setempat yang telah menggantungkan mata pencariannya dengan berjualan di kawasan wisata lereng Gunung Kelud sejak tahun 2020. Di warungnya, ia menyediakan berbagai kebutuhan pengunjung seperti minuman, mi instan (pop mie), nasi, kopi, hingga bahan bakar minyak (BBM) eceran.

Ia mengenang bahwa usahanya sempat berjalan selama tiga bulan di awal berdiri sebelum akhirnya terdampak pandemi Corona. Sejak saat itu hingga sekarang, kondisi omset pendapatannya terus mengalami pasang surut dan cenderung menurun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Supriani, hari Minggu atau hari-hari besar menjadi waktu di mana kawasan tersebut biasanya ramai dikunjungi wisatawan. Namun, ia merasakan adanya perbedaan yang sangat mencolok pada jumlah pendapatan hari Minggu saat ini dibandingkan dengan masa lalu.

“Kalau dulu pas hari Minggu, paling sedikit itu bisa dapat Rp500.000 ke atas, bahkan kadang hampir Rp1 juta lebih. Kalau sekarang, dapat Rp200.000 saja kadang sudah harus bersyukur (ngempet) untuk satu hari,” keluh Supriani saat diwawancarai di lapaknya.

Menurut penuturan pihak pengelola atau warga sekitar yang mendampingi, penurunan ini terjadi karena adanya perubahan dalam koordinasi kegiatan wisata. Pada masa kepemimpinan Bupati terdengar sangat ramai karena adanya kewajiban dari berbagai desa untuk hadir.

Sementara saat ini, kegiatan wisata seperti acara Larung Sesaji yang diadakan setiap hari Minggu lebih bersifat sebagai penarik minat wisatawan lokal atau komunitas tertentu seperti rombongan touring yang datang untuk sekadar menikmati kopi. Jangkauan koordinasi kegiatannya pun kini lebih banyak berpusat di tingkat kecamatan, tidak lagi melibatkan seluruh desa se-kabupaten.

Baca Juga  Guru Ngaji Soroti Dampak Program Lima Hari Sekolah

Warung milik Supriani biasanya mulai dibuka antara pukul 09.00 atau 11.00 siang hingga pukul 17.00 sore pada hari-hari biasa. Khusus untuk hari Minggu, ia memilih untuk berjualan hingga habis waktu magrib karena biasanya masih banyak pengunjung atau pemuda yang berkumpul untuk menikmati kopi. Walau kondisi pencahayaan minim saat menjelang malam, fasilitas lampu di warungnya cukup membantu operasional dagangnya.

Meski kondisi kunjungan wisata saat ini belum stabil, keberadaan sektor wisata lereng Gunung Kelud ini diakui tetap membantu perekonomian dan menjadi sumber mata pencarian utama bagi Supriani. Ia pun menaruh harapan besar agar kawasan wisata ini bisa kembali menggeliat dan ramai seperti sediakala.

“Harapannya ya semoga tempat wisatanya bisa ramai lagi, jadi banyak pengunjung yang datang ke sini,” pungkasnya.

Jurnalis : Stefani Eka

administrator
Media Berita Online | Menyampaikan Berita Terkini - Aktual - Terpercaya

    Artikel Terkait

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *