Tandaglobal.news | Brebes — Lorong bawah tanah di Pabrik Gula (PG) Jatibarang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, menjadi saksi perkembangan industri gula sejak masa kolonial Belanda sekaligus memunculkan beragam kisah mistis yang masih diperbincangkan hingga kini.
PG Jatibarang merupakan salah satu pabrik gula peninggalan Belanda yang berdiri pada 1842 dan masih menjadi bagian penting dari sejarah industri gula di Indonesia.
Di balik bangunan bersejarah tersebut, terdapat lorong bawah tanah yang dahulu dibangun sebagai fasilitas pendukung operasional pabrik.
Lorong yang tersusun dari bata merah itu digunakan sebagai jalur sirkulasi udara, drainase, serta akses menuju ruang ketel uap.
Di dalam lorong masih terlihat sisa rel lori berukuran kecil dan troli yang pernah digunakan untuk menunjang aktivitas produksi gula pada masa lalu.
Keberadaan fasilitas tersebut menjadi bukti penerapan teknologi industri yang berkembang pada era kolonial.
Suasana lorong yang lembap, minim pencahayaan, dan dipenuhi bangunan tua kemudian melahirkan berbagai cerita yang berkembang di tengah masyarakat.
Sejumlah pengunjung mengaku merasakan suhu yang tiba-tiba lebih dingin saat memasuki lorong tersebut.
Sebagian lainnya mengaku mencium aroma yang tidak biasa serta mendengar suara langkah kaki maupun bisikan yang sulit dijelaskan.
Cerita yang beredar juga menyebut adanya penampakan sosok noni Belanda, mandor kolonial, hingga anak kecil di sekitar lorong bawah tanah.
Beberapa konten kreator yang pernah mengeksplorasi lokasi tersebut turut membagikan pengalaman yang mereka anggap tidak biasa selama berada di dalam lorong.
Meski demikian, berbagai kisah tersebut belum dapat dibuktikan secara ilmiah dan lebih banyak berkembang sebagai cerita yang hidup di tengah masyarakat.
Sebagian pihak menilai fenomena yang dirasakan pengunjung juga dapat dipengaruhi kondisi lorong yang tertutup dan memiliki tingkat kelembapan tinggi.
Efek akustik bangunan tua memungkinkan suara memantul sehingga menimbulkan kesan seolah berasal dari arah yang berbeda.
Gangguan pada kamera maupun telepon seluler juga disebut dapat dipengaruhi kondisi ruangan dan kualitas sinyal di dalam bangunan.
Terlepas dari beragam cerita yang berkembang, lorong bawah tanah PG Jatibarang tetap memiliki nilai sejarah yang penting sebagai bagian dari warisan industri gula Indonesia.
Bangunan tersebut menjadi pengingat perkembangan teknologi pengolahan gula pada masa kolonial yang pernah berkembang di wilayah Brebes.
Kini, lorong bawah tanah PG Jatibarang tidak hanya menarik perhatian pecinta sejarah, tetapi juga menjadi destinasi yang kerap dikunjungi penikmat wisata heritage.
Keberadaan kisah mistis yang terus berkembang menjadikan lorong tersebut memiliki daya tarik tersendiri tanpa mengurangi nilai sejarah yang dikandungnya.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan