Tandaglobal.news | Karanganyar — Pabrik Gula Colomadu atau De Tjolomadoe menjadi salah satu peninggalan industri gula bersejarah yang merekam perjalanan kemandirian ekonomi Mangkunegaran pada abad ke-19.

Di balik kejayaan pabrik yang pernah menjadi pusat produksi gula terbesar di wilayah Surakarta tersebut, terdapat peran penting Mangkunegara IV dan seorang perempuan bernama Nyai Pulungsih.

Pada masa pemerintahan Mangkunegara IV, kawasan perkebunan tebu di wilayah Mangkunegaran berkembang melalui kerja sama dengan pengusaha Eropa.

Namun, keuntungan besar dari industri gula saat itu lebih banyak mengalir kepada pihak asing, sementara kerajaan hanya memperoleh sebagian kecil hasilnya.

Kondisi tersebut mendorong Mangkunegara IV untuk membangun pabrik gula sendiri agar Mangkunegaran memiliki kendali terhadap sektor ekonomi.

Rencana itu menghadapi kendala besar karena pembangunan pabrik membutuhkan biaya sekitar 400 ribu gulden, jumlah yang sangat besar pada masa tersebut.

Di tengah kesulitan mencari modal, muncul peran Nyai Pulungsih, seorang perempuan yang memiliki hubungan dekat dengan lingkungan Mangkunegaran.

Nyai Pulungsih merupakan putri Be Biauw Tjwan, seorang Mayor Tionghoa dari Semarang yang dikenal memiliki jaringan perdagangan dan kekuatan ekonomi.

Melalui Nyai Pulungsih, Mangkunegara IV mendapatkan akses kepada jaringan pengusaha Tionghoa Semarang.

Kepercayaan yang terbangun antara kedua keluarga tersebut akhirnya membuka jalan bagi pemberian pinjaman modal untuk pembangunan pabrik gula.

Pinjaman itu menjadi titik penting dalam sejarah berdirinya Pabrik Gula Colomadu.

Dana tersebut digunakan untuk membeli mesin, membangun fasilitas produksi, serta mendukung pembangunan infrastruktur pabrik yang melibatkan tenaga ahli dari Eropa.

Pada 8 Desember 1861, pembangunan Pabrik Gula Colomadu dimulai di wilayah Malangjiwan, Karanganyar.

Nama Colomadu berasal dari dua kata, yaitu colo yang berarti gunung dan madu yang berarti manis.

Nama tersebut menggambarkan harapan agar pabrik itu menjadi sumber kemakmuran bagi Mangkunegaran.

Dalam proses pembangunannya, Nyai Pulungsih tidak hanya berperan sebagai penghubung modal.

Ia juga turut mengawasi jalannya pembangunan serta menjaga hubungan antara Mangkunegaran dengan para pekerja dan ahli teknik yang terlibat.

Pabrik Colomadu kemudian menggunakan teknologi modern pada zamannya, termasuk sistem pengolahan gula dengan mesin uap dan teknologi triple effect yang dikembangkan oleh insinyur Eropa bernama R. Kampf.

Kehadiran teknologi tersebut menjadikan Colomadu sebagai salah satu pabrik gula maju di Hindia Belanda.

Setelah beroperasi, gula produksi Colomadu dipasarkan hingga berbagai wilayah, termasuk Singapura dan Banda Neira.

Keberhasilan tersebut membantu memperkuat perekonomian Mangkunegaran dan mendorong pembangunan pabrik gula lain, seperti Pabrik Gula Tasikmadu.

Selain keberhasilan ekonomi, Colomadu juga melahirkan tradisi budaya yang masih dikenang hingga kini.

Mangkunegara IV kemudian menciptakan upacara Cembengan, sebuah tradisi menjelang musim giling tebu yang terinspirasi dari tradisi ziarah masyarakat Tionghoa, Cing Bing.

Tradisi tersebut dilakukan sebagai bentuk doa keselamatan dan penghormatan terhadap para pendahulu.

Dalam sejarahnya, tradisi itu juga menjadi pengingat terhadap peran Nyai Pulungsih yang memiliki kontribusi besar dalam lahirnya Pabrik Gula Colomadu.

Kini, bangunan De Tjolomadoe menjadi saksi perjalanan panjang industri gula Indonesia.

Di balik bangunan tua dan mesin-mesin peninggalannya, tersimpan kisah kolaborasi antara kepemimpinan Mangkunegara IV dan kecerdikan ekonomi Nyai Pulungsih.

Kolaborasi tersebut berhasil mengubah keterbatasan modal menjadi salah satu kejayaan industri gula Mangkunegaran.

De Tjolomadoe bukan hanya cerita tentang gula, tetapi juga tentang visi, kepercayaan, dan peran perempuan yang ikut menentukan arah sejarah ekonomi Jawa.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.