Kediri,Tandaglobal.news-Dulu, Koperasi Unit Desa (KUD) menjadi bagian penting dari denyut ekonomi masyarakat desa. Pupuk bersubsidi, obat-obatan pertanian, hingga berbagai program kredit pemerintah disalurkan melalui koperasi. Keanggotaan pun tumbuh karena koperasi menjadi bagian tak terpisahkan dari aktivitas ekonomi warga.Namun, kondisi tersebut kini jauh berubah.
KUD Karya Bakti di Kecamatan Kandat, Kabupaten Kediri, menjadi salah satu gambaran bagaimana koperasi lama berusaha bertahan ketika peran yang dahulu menopang kehidupannya perlahan menghilang.
Ketua KUD Karya Bakti Kandat, Ir Saliman, mengatakan koperasi yang dipimpinnya kini tidak lagi memiliki sejumlah unit usaha yang dahulu menjadi sumber aktivitas ekonomi anggota.
“Kalau program pemerintah sudah tidak ada, kita harus mandiri,” kata Saliman.
Saat ini, KUD Karya Bakti masih menjalankan sejumlah kegiatan usaha, di antaranya simpan pinjam serta layanan pembayaran rekening listrik. Koperasi tersebut juga memiliki saham di salah satu perbankan.
Namun, menurut Saliman, tantangan terbesar justru terletak pada semakin minimnya keterlibatan anggota.
KUD Karya Bakti kini tercatat memiliki sekitar 5.000 anggota. Jumlah tersebut sebenarnya telah mengalami penurunan cukup besar dibandingkan masa sebelumnya yang mencapai sekitar 7.500 orang.
Penyusutan terjadi karena anggota meninggal dunia maupun berpindah tempat tinggal.
Persoalannya bukan hanya jumlah anggota yang berkurang. Dari sekitar 5.000 anggota yang tercatat, Saliman menyebut hanya sekitar 100 orang yang masih aktif.
“Sekitar 100-an yang aktif. Hampir semua KUD seperti itu,” ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya jarak antara jumlah anggota secara administratif dengan partisipasi ekonomi anggota dalam koperasi.
Saliman menyebut, pada masa lalu, masyarakat menjadi anggota KUD karena berbagai aktivitas ekonomi mereka terhubung langsung dengan koperasi. Mulai dari program pertanian, penyaluran pupuk, kredit program pemerintah, hingga kegiatan tebang dan angkut tebu.
Ketika berbagai program tersebut tidak lagi disalurkan melalui KUD, keterikatan masyarakat terhadap koperasi ikut melemah.
“Dulu semakin banyak anggotanya berarti KUD itu semakin bagus. Sekarang orang sudah tidak ada minat ke koperasi, apalagi sudah tidak menjadi distributor pupuk,” tuturnya.
Kehilangan Peran Strategis
Bagi Saliman, persoalan KUD bukan semata-mata karena koperasi tidak mampu menjalankan usaha. Menurutnya, perubahan sistem distribusi dan kebijakan pemerintah turut memengaruhi keberlangsungan koperasi.
Ia mencontohkan penyaluran pupuk bersubsidi yang dahulu menjadi salah satu aktivitas penting KUD.
Ketika pupuk bersubsidi tidak lagi menjadi bagian dari bisnis koperasi, salah satu sumber interaksi antara KUD dan petani ikut hilang.
Hal serupa terjadi pada layanan pembayaran rekening listrik yang kini semakin terdigitalisasi. Menurut Saliman, perubahan tersebut membuat jumlah pelanggan layanan pembayaran listrik di koperasi ikut menurun.
“Sekarang kalau listrik kan sudah online. Ada voucher-voucher online,” katanya.
Bagi Saliman, kondisi itu memperlihatkan bahwa koperasi harus beradaptasi dengan perubahan zaman. Namun, adaptasi tersebut juga tidak mudah apabila koperasi tidak memiliki basis usaha yang kuat.
Karena itu, KUD Karya Bakti memilih mencari sumber usaha lain agar tetap dapat bertahan.
Salah satunya melalui usaha sewa lahan untuk ditanami tebu.
Dalam skema tersebut, koperasi menyewa lahan masyarakat, kemudian biaya budidaya ditanggung koperasi. Pengelolaan tanaman dilakukan oleh KUD hingga masa panen.
Menurut Saliman, model tersebut justru dinilai memiliki prospek lebih baik dibandingkan hanya mengandalkan usaha simpan pinjam.
“Kita cari terobosan. Kalau ada yang menyewakan tanah, kita sewa, lalu ditanami tebu. Itu malah lebih untung,” ujarnya.
Strategi tersebut menjadi bentuk upaya KUD untuk bertahan secara mandiri di tengah minimnya dukungan program pemerintah yang secara langsung melibatkan koperasi.
Generasi Muda Belum Banyak Terlibat
Persoalan lain yang dihadapi KUD Karya Bakti adalah regenerasi.
Saliman mengakui anggota muda masih relatif sedikit. Sebagian besar anggota yang tercatat merupakan anggota lama yang telah bergabung sejak koperasi masih memiliki banyak program usaha.
Padahal, regenerasi menjadi salah satu faktor penting agar koperasi dapat bertahan dalam jangka panjang.
Tanpa anggota baru yang aktif, koperasi berpotensi hanya memiliki jumlah anggota besar di atas kertas, tetapi minim aktivitas ekonomi.
Kondisi tersebut juga terlihat dari keanggotaan KUD Karya Bakti. Dari ribuan anggota yang masih tercatat, hanya sebagian kecil yang benar-benar aktif bertransaksi dan terlibat dalam kegiatan koperasi.
“Kalau sekarang orang-orang sudah tidak ada minat ke koperasi,” kata Saliman.
Meski demikian, kegiatan organisasi koperasi tetap berjalan. Rapat pengurus dan pengawas tetap dilakukan, sementara rapat anggota dan pertemuan kelompok juga digelar secara berkala.
KUD dan Koperasi Desa Merah Putih
Di tengah kondisi tersebut, muncul model baru koperasi melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
Bagi Saliman, kehadiran KDMP seharusnya tidak membuat KUD berjalan sendiri-sendiri. Justru, menurutnya, terdapat peluang kerja sama antara koperasi lama dan koperasi desa yang baru terbentuk.
Ia menilai KUD yang memiliki pengalaman dan jaringan distribusi dapat mengambil peran sebagai distributor, sementara KDMP menjadi bagian dari jaringan penyaluran hingga tingkat desa.
“Kalau KUD jadi distributor, KUD jadi penyalur itu malah lebih enak. Sudah ada,” ujarnya.
Skema tersebut, menurut Saliman, dapat diterapkan untuk berbagai komoditas yang berada dalam pengawasan pemerintah, termasuk pupuk dan LPG.
KUD dapat berperan pada sisi distribusi, sedangkan KDMP dapat menyalurkan barang tersebut ke toko-toko yang berada di desa.
Dengan demikian, kehadiran koperasi baru tidak harus mematikan koperasi lama.
Sebaliknya, pengalaman KUD dapat dimanfaatkan untuk memperkuat KDMP yang masih berada dalam tahap pengembangan.
“Kalau tidak ada (kerja sama) ya berat juga,” katanya.
Mengembalikan Jati Diri Koperasi
Saliman berharap pemerintah tidak hanya membentuk koperasi baru, tetapi juga memperkuat koperasi yang telah memiliki sejarah panjang dan pengalaman mengelola ekonomi masyarakat.
Ia mengusulkan agar barang-barang bersubsidi maupun komoditas yang berada dalam pengawasan pemerintah kembali melibatkan koperasi dalam sistem distribusinya.
Menurutnya, langkah tersebut dapat memberikan ruang usaha sekaligus menghidupkan kembali hubungan antara koperasi dan masyarakat.
“Yang jelas kembalikan saja jati diri koperasi. Barang-barang subsidi masuk koperasi. Itu nanti semua jalan,” tegasnya.
Ia menilai koperasi memiliki karakter berbeda dengan badan usaha lainnya karena tujuan utamanya adalah memberikan manfaat bagi anggota.
Prinsip tersebut, menurut Saliman, perlu kembali menjadi dasar dalam kebijakan perkoperasian.
KUD Karya Bakti sendiri membuktikan bahwa koperasi masih dapat bertahan meski tidak lagi ditopang oleh berbagai program pemerintah seperti pada masa lalu.
Namun, jalan untuk benar-benar kembali menjadi kekuatan ekonomi masyarakat masih panjang.
Dengan sekitar 5.000 anggota tetapi hanya sekitar 100 yang aktif, tantangan KUD bukan hanya bagaimana mencari unit usaha baru.
Lebih dari itu, koperasi harus kembali menemukan alasan mengapa masyarakat—terutama generasi muda—perlu menjadi anggota dan ikut menjalankan koperasi.
Di titik inilah masa depan KUD dan koperasi desa baru seperti KDMP bertemu pada satu pertanyaan besar: apakah koperasi mampu kembali menjadi kekuatan ekonomi masyarakat, atau hanya akan menjadi lembaga yang ramai secara administratif tetapi sepi dalam aktivitas anggotanya?
Reporter: Wildan Wahid Hasyim




















Tinggalkan Balasan