
Tandaglobal.news | KEDIRI – Kelenteng Tjoe Hwie Kiong menjadi salah satu bangunan bersejarah yang masih berdiri kokoh di Kota Kediri. Berdasarkan informasi Pemerintah Kota Kediri, kelenteng yang berada di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Pakelan, Kecamatan Kota, tersebut diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1817 dan kini berstatus sebagai bangunan cagar budaya yang terus dijaga kelestariannya.
Ketua Yayasan Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, Prajitno Sutikno, mengatakan sejarah awal berdirinya kelenteng tidak dapat diketahui secara lengkap.
Hal itu karena banyak dokumen penting yang hilang akibat banjir besar yang pernah melanda kawasan tersebut.
“Karena kelenteng ini pernah tenggelam ya, data-datanya ya banyak yang tenggelam. Tahun ’55 pernah tenggelam, luapan air sungai,” jelasnya.
Meski telah berusia lebih dari dua abad, bangunan inti kelenteng tetap dipertahankan sesuai bentuk aslinya.
Perubahan yang dilakukan hanya berupa penambahan beberapa bangunan pendukung dan peninggian lantai sebagai upaya mengantisipasi banjir.
“Tampilannya mungkin agak berbeda karena terasnya berubah. Tapi untuk bangunan inti, sama. Tetap sama, hanya karena kelenteng ini dulu pernah tenggelam, dan lantainya dinaikkan, jadi perubahannya kelentengnya agak pendek tampilannya,” tutur Prajitno.
Selain dikenal sebagai bangunan bersejarah, Kelenteng Tjoe Hwie Kiong juga merupakan kelenteng Tri Dharma yang menjadi tempat ibadah bagi umat Konghucu, Buddha, dan Tao.
Hingga kini, kelenteng tersebut masih aktif digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus menjadi salah satu destinasi wisata religi di Kota Kediri.
Prajitno menjelaskan bahwa nama “Tjoe Hwie Kiong” memiliki makna tersendiri. Kata “Kiong” menunjukkan bentuk tempat ibadah dengan tata cara peribadatan yang lebih lengkap dibandingkan jenis kelenteng lain, seperti Bio maupun Sie.
Di Kelenteng Tjoe Hwie Kiong, umat rutin melaksanakan ibadah setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek, selain berbagai perayaan hari besar dewa-dewi.
Dalam setiap ibadah, lilin dimaknai sebagai simbol harapan dan penerangan kehidupan, sedangkan dupa (hio) melambangkan ketenangan dalam beribadah serta harapan agar doa dapat sampai kepada Yang Maha Kuasa.
Menjelang Imlek dan Cap Go Meh, pengurus juga melakukan berbagai rangkaian persiapan.
Kegiatannya meliputi pembersihan altar dan area kelenteng, pelaksanaan upacara penghantaran dewa-dewi ke langit, malam penutupan tahun, hingga ritual tolak bala berdasarkan shio pada H+7 Imlek.
Sebagai salah satu bangunan cagar budaya, Kelenteng Tjoe Hwie Kiong juga menjadi destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Pengunjung diperbolehkan mengabadikan momen di halaman depan kelenteng selama tetap menjaga ketertiban dan menghormati aktivitas ibadah yang berlangsung.
Di akhir wawancara, Prajitno mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keberadaan kelenteng sebagai warisan sejarah Kota Kediri.
“Kelenteng Tjoe Hwie Kiong ini adalah milik… sekarang secara tidak langsung adalah milik masyarakat Kediri, kota/kabupaten. Jadi mari kita jaga bersama-sama apa yang ada di wilayah kita,” pungkasnya.




















Tinggalkan Balasan