Tandaglobal.news | Magetan — Kisah dari Pabrik Gula Redjosarie sekitar tahun 1920 menggambarkan momen ketika bahaya di ruang mesin berakhir dengan kebersamaan antara administrateur dan para pekerja.

Pada suatu sore, tekanan uap mesin giling meningkat terlalu cepat hingga membuat sabuk besar mesin mulai berbunyi keras.

Saman, seorang pekerja yang biasanya bertugas sebagai tenaga bantu, berusaha menutup katup uap yang mulai mengalami masalah.

Roda besi katup tersebut terasa panas dan sulit digerakkan sehingga membuat kondisi ruang mesin semakin berbahaya.

Jika kesalahan terjadi, mesin giling raksasa itu dapat mengalami kerusakan bahkan membahayakan keselamatan pekerja.

Suara tidak biasa dari ruang mesin kemudian terdengar hingga ke kantor administrateur.

Andriaan Willem van der Velde, Administrateur PG Redjosarie, segera datang menuju ruang mesin untuk melihat keadaan.

Pada saat para pekerja mengalami kepanikan, Velde masuk ke dalam pabrik dengan langkah cepat dan wajah serius.

Sosoknya yang biasanya hanya terlihat dari jendela kantor tinggi hari itu hadir langsung di tengah para pekerja.

Tanpa banyak bicara, Velde berdiri sejajar dengan Saman untuk membantu mengatasi masalah tersebut.

“Kita putar bersama,” kata Velde kepada Saman.

Mereka kemudian bersama-sama memutar roda katup yang sulit digerakkan.

Uap panas keluar dari mesin sementara besi berderit akibat tekanan yang masih tinggi.

Setelah berusaha beberapa saat, roda katup akhirnya bergerak dan dapat ditutup secara perlahan.

Tekanan uap mulai turun dan suara sabuk mesin yang sebelumnya melengking akhirnya berhenti.

Mesin kembali berjalan normal setelah situasi yang menegangkan tersebut berhasil dikendalikan.

Saman kemudian terduduk karena kelelahan setelah berusaha menyelamatkan kondisi mesin.

Velde juga melihat telapak tangannya yang memerah akibat ikut membantu memutar roda katup.

“Tanpa bantuanmu, kita tak selamat dari ini,” ujar Velde kepada Saman.

Namun, kejutan lain terjadi setelah keadaan ruang mesin kembali tenang.

Velde memanggil seorang pesuruh dan meminta agar dibawakan kotak dari rumah yang berasal dari Amsterdam.

Lima belas menit kemudian, pesuruh tersebut datang membawa kotak kayu berisi kaasstengels, kue kering khas Belanda.

Pada masa itu, makanan tersebut termasuk hidangan yang jarang dinikmati oleh sebagian masyarakat Eropa di Jawa.

Velde kemudian membagikan kaasstengels tersebut kepada para pekerja yang masih lelah setelah menghadapi situasi berbahaya.

“Untuk malam yang berat,” kata Velde. “Dan untuk kerja keras kalian.”

Para buruh saling berpandangan karena tidak menyangka mendapat perlakuan tersebut dari seorang administrateur.

Bagi sebagian pekerja, pengalaman itu menjadi pertama kalinya menikmati makanan dari negeri jauh yang sebelumnya hanya dikenal sebagai bagian dari kehidupan orang Eropa.

Saman mencicipi kaasstengels tersebut dengan perlahan sambil merasakan pengalaman baru yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Malam itu, para pekerja dan administrateur menikmati makanan bersama di ruang mesin yang masih menyisakan aroma uap dan oli.

Tidak ada jarak antara mereka setelah bersama-sama melewati bahaya yang sama.

Kisah tersebut kemudian dikenang sebagai momen ketika sepotong kaasstengels menghadirkan rasa kebersamaan di tengah kerasnya kehidupan pabrik gula masa kolonial.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.