Tandaglobal.news | KEDIRI — Depresi Besar 1929 atau The Great Depression menjadi titik balik yang mengguncang industri gula di Pulau Jawa hingga menyebabkan puluhan pabrik tutup dan ribuan buruh kehilangan mata pencaharian.
Menjelang akhir dekade 1920-an, Pulau Jawa memiliki sekitar 179 pabrik gula yang memproduksi hampir 3 juta ton gula kristal putih setiap tahun.
Pada masa itu, Jawa menempati posisi sebagai produsen gula terbesar kedua di dunia setelah Kuba.
Nilai ekspor gula dari Hindia Belanda mencapai sekitar 200 juta gulden dan menjadi salah satu penopang utama perekonomian kolonial.
Situasi berubah drastis setelah peristiwa Black Tuesday pada 1929 mengguncang pasar saham Amerika Serikat dan memicu krisis ekonomi global.
Produksi industri di berbagai negara mengalami penurunan tajam seiring melemahnya aktivitas perdagangan internasional.
Perdagangan dunia merosot hingga sekitar 60 persen dalam beberapa tahun setelah krisis tersebut.
Harga gula di pasar dunia juga anjlok hingga sekitar 70 persen selama periode 1929 hingga 1933.
Dampak krisis segera dirasakan oleh industri gula di Hindia Belanda yang sangat bergantung pada pasar ekspor.
Sejumlah negara tujuan ekspor mulai membatasi impor melalui penerapan tarif dan kuota perdagangan.
Pemerintah kolonial kemudian memberlakukan Crisis-en Suikerwet pada 1931 sebagai upaya mengendalikan produksi dan menstabilkan harga gula.
Kebijakan tersebut justru membuat banyak pabrik harus mengurangi kapasitas produksi bahkan menghentikan operasionalnya.
Sejumlah pabrik gula yang sebelumnya menjadi penggerak ekonomi daerah akhirnya tidak mampu bertahan menghadapi tekanan krisis.
Pabrik Gula Ketegan, Buduran, Balongbendo, Gemboel, Karah, Ketintang, Mojowarno, Purwoasri, dan beberapa pabrik lainnya menjadi bagian dari industri yang menghentikan kegiatan produksinya.
Jumlah pabrik gula di Pulau Jawa pun menyusut secara drastis dalam waktu kurang dari satu dekade.
Dari sekitar 179 pabrik yang pernah beroperasi, pada 1939 hanya sekitar 85 pabrik yang masih bertahan.
Nilai ekspor gula juga turun tajam dari sekitar 200 juta gulden menjadi hanya sekitar 40 juta gulden.
Dampak paling besar dirasakan oleh masyarakat yang menggantungkan hidup pada industri gula.
Ribuan buruh pabrik kehilangan pekerjaan akibat penutupan dan pengurangan kegiatan produksi.
Petani tebu juga kehilangan sumber penghasilan karena berkurangnya kebutuhan bahan baku pabrik.
Banyak keluarga terpaksa menjual ternak, perhiasan, hingga tanah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Sebagian masyarakat memilih merantau ke kota untuk bekerja sebagai buruh pelabuhan, pedagang kecil, maupun pekerjaan lainnya.
Di sejumlah wilayah, kondisi tersebut memicu aksi protes dan pemogokan para pekerja.
Krisis ekonomi yang bermula dari belahan dunia lain terbukti membawa perubahan besar terhadap kehidupan masyarakat di Pulau Jawa.
Meskipun kondisi ekonomi dunia perlahan membaik, kejayaan industri gula kolonial tidak pernah sepenuhnya kembali seperti sebelumnya.
Bangunan pabrik tua, jalur lori yang mulai berkarat, serta rumah-rumah dinas peninggalan kolonial hingga kini masih menjadi saksi perjalanan industri gula yang pernah menjadi penopang utama perekonomian Pulau Jawa.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan