
Tandaglobal.news | Jakarta — Industri gula Indonesia selama ini masih banyak mengandalkan sistem gilingan atau mill tandem untuk memeras tebu menjadi nira sebagai bahan utama produksi gula.
Sistem gilingan tersebut telah lama digunakan karena terbukti tangguh dan mampu menyesuaikan dengan kondisi tebu yang tersedia di lapangan.
Namun, di tengah perkembangan teknologi industri gula, terdapat metode lain yang dinilai lebih efisien yaitu teknologi difuser.
Berbeda dengan sistem gilingan yang bekerja dengan cara menekan batang tebu, difuser menggunakan metode ekstraksi melalui perendaman potongan tebu halus dengan air panas.
Melalui proses tersebut, kandungan gula dalam serat tebu dilarutkan sehingga dapat menghasilkan nira dengan tingkat perolehan yang lebih tinggi.
Teknologi difuser juga disebut memiliki keunggulan dalam penggunaan energi yang lebih hemat dibandingkan sistem gilingan konvensional.
Meski memiliki sejumlah kelebihan, penerapan difuser di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam praktiknya.
Beberapa pabrik gula di Indonesia yang pernah menggunakan teknologi ini antara lain PG Kedawung dan PG Bungamayang, tetapi hasil penerapannya belum sepenuhnya sesuai dengan harapan.
Berbagai kendala muncul dalam pengoperasian difuser, mulai dari kualitas bahan baku tebu, pengendalian suhu, hingga perawatan peralatan yang membutuhkan perhatian khusus.
Pengalaman tersebut membuat sebagian pelaku industri gula di Indonesia masih ragu untuk kembali menerapkan teknologi difuser secara luas.
Padahal, di sejumlah negara seperti Brasil, Kolombia, Meksiko, Afrika Selatan, Australia, dan Thailand, teknologi ini telah berhasil diterapkan dan menjadi bagian dari sistem produksi gula modern.
Keberhasilan penerapan difuser di negara lain menunjukkan bahwa teknologi tersebut tetap memiliki peluang untuk dikembangkan di Indonesia.
Dengan perencanaan desain pabrik yang tepat, pasokan tebu segar, serta dukungan sistem kontrol otomatis, difuser dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan efisiensi industri gula nasional.
Teknologi ini menawarkan sejumlah potensi, mulai dari penghematan energi, peningkatan efisiensi produksi, hingga proses yang lebih ramah lingkungan.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan