Lebih lanjut, Fadeli mengungkapkan sistem penerimaan siswa di Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah reguler. Sekolah tidak membuka pendaftaran umum, melainkan melakukan penjangkauan langsung kepada calon siswa dari keluarga kategori desil 1 dan desil 2 berdasarkan data pemerintah.
“Kita bukan menerima pendaftaran siswa, tetapi menjangkau mereka. Kita yang datang ke rumah-rumah bersama pendamping sosial untuk memastikan anak-anak yang berhak mendapatkan layanan pendidikan ini bisa sekolah,” jelasnya.
Selain fokus pada kesehatan fisik, Sekolah Rakyat juga memberi perhatian terhadap kondisi psikologis siswa yang harus tinggal di asrama. Menurut Fadeli, rasa rindu keluarga atau homesick merupakan hal yang wajar, terutama bagi siswa baru.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, sekolah menerapkan pola pendampingan intensif. Setiap siswa dipastikan selalu memiliki aktivitas yang terarah dan didampingi guru maupun pengasuh.
“Kami punya prinsip, tidak semenit pun anak tanpa kegiatan dan tidak sedetik pun kegiatan tanpa pendampingan. Dengan begitu anak-anak tetap aktif, terpantau, dan merasa nyaman berada di lingkungan sekolah,” ungkapnya.
Selain itu, guru diminta meluangkan waktu secara khusus untuk membangun kedekatan dengan siswa. Pendekatan personal dilakukan agar anak-anak memiliki tempat bercerita ketika menghadapi persoalan selama tinggal di asrama.
“Guru tidak boleh hanya mengajar lalu selesai. Mereka harus mengenal anak-anak secara personal. Ketika ada anak yang menyendiri atau terlihat berbeda, itu langsung kita dekati dan dampingi,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, dr. Bambang, menjelaskan bahwa CKG merupakan program rutin nasional yang dilaksanakan setiap tahun, khususnya pada awal tahun ajaran baru.
Menurutnya, pemeriksaan dimulai dengan tes kebugaran untuk mengukur kondisi fisik siswa, kemudian dilanjutkan dengan skrining kesehatan sesuai petunjuk teknis yang berlaku.
“Kegiatan ini untuk memetakan faktor risiko kesehatan siswa. Dari hasil itu nanti bisa diketahui mana yang perlu pemantauan lebih lanjut atau pemeriksaan lanjutan,” jelas dr. Bambang.




















Tinggalkan Balasan