TANDAGLOBAL.NEWS | KEDIRI – Di balik tenangnya lereng Gunung Kelud, tepatnya di Dusun Dorok, Desa Manggis, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, tersimpan jejak peradaban kuno yang diperkirakan telah berdiri sejak abad ke-10 Masehi. Candi Dorok, situs peninggalan berbahan bata merah yang sempat terkubur selama ratusan tahun, kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan edukasi yang menarik perhatian pelajar, mahasiswa, hingga pegiat sejarah. Namun di tengah upaya pelestariannya, kawasan situs tersebut kini menghadapi ancaman longsor yang terjadi secara tiba-tiba meski tidak sedang memasuki musim hujan, Selasa (4/8/2026).

Candi Dorok pertama kali ditemukan secara tidak sengaja pada 1996 di lahan milik warga bernama Tumudi. Saat itu ia tengah menggali tanah untuk menanam pohon ketika cangkulnya membentur benda keras. Setelah diperiksa, benda tersebut ternyata merupakan susunan bata merah yang membentuk struktur bangunan kuno. Temuan itu kemudian dilaporkan kepada instansi terkait hingga dilakukan penelitian dan ekskavasi. Hasil penggalian menunjukkan struktur candi berada sekitar tiga meter di bawah permukaan tanah dan kini dilengkapi tangga serta atap pelindung untuk menjaga kelestarian bangunan.

Tumudi mengaku tidak pernah menyangka lahan miliknya menyimpan peninggalan sejarah yang kini menjadi salah satu situs penting di Kabupaten Kediri. Penemuan tersebut menjadi awal terungkapnya bangunan kuno yang selama berabad-abad tertimbun tanah di lereng Gunung Kelud.

“Waktu itu saya sedang menggali tanah untuk menanam pohon. Tiba-tiba cangkul saya membentur benda keras. Setelah saya lihat, ternyata susunan bata yang membentuk bangunan. Akhirnya saya laporkan ke pihak terkait hingga dilakukan penelitian dan penggalian,” kenang Tumudi.

Belakangan ini kondisi kawasan candi menjadi perhatian setelah terjadi longsor secara mendadak di bagian tebing sekitar situs. Pergerakan tanah tersebut terjadi meski tidak sedang musim hujan dan mengakibatkan sebagian area di sekitar candi menjadi rawan. Sebagai langkah penanganan sementara, bagian atas tebing disangga menggunakan bambu agar tanah tidak terus merosot, sementara area rawan dipasangi pagar pembatas dan terpal untuk mengurangi masuknya air hujan sekaligus menjaga keselamatan pengunjung.

Selain ancaman longsor, sejumlah bagian struktur bata merah juga mulai mengalami pelapukan akibat faktor usia. Kondisi tersebut membuat upaya pelestarian terus dilakukan agar kerusakan tidak semakin meluas dan bangunan bersejarah itu tetap dapat dinikmati masyarakat sebagai warisan budaya Kabupaten Kediri.

Menurut Tumudi, Candi Dorok hingga kini masih rutin dikunjungi rombongan anak sekolah, mahasiswa, hingga komunitas pecinta sejarah dari berbagai daerah. Mereka datang untuk mempelajari sejarah, melakukan penelitian, maupun mengenal lebih dekat peninggalan budaya yang masih tersisa di kawasan lereng Gunung Kelud.

“Biasanya yang datang ke sini anak-anak sekolah, mahasiswa, sampai komunitas pecinta sejarah. Mereka belajar sekaligus mencari informasi tentang sejarah Candi Dorok,” ujar Tumudi saat ditemui di lokasi, Selasa (4/8/2026).

Keunikan material bata merah menjadikan Candi Dorok berbeda dengan sebagian besar candi di Kabupaten Kediri yang menggunakan batu andesit. Berdasarkan karakteristik bangunannya, situs ini diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-10 Masehi dan diyakini menjadi salah satu jejak perkembangan peradaban Hindu di Jawa Timur. Di tengah ancaman longsor dan usia bangunan yang terus bertambah, upaya pelestarian diharapkan terus dilakukan agar Candi Dorok tetap menjadi sumber pembelajaran sejarah sekaligus destinasi wisata edukasi bagi generasi mendatang.

Reporter: Roni Ardiansyah
Editor: Rizky Rusdiyanto