Tandaglobal.news | Okinawa — Kisah keberlanjutan tanaman tebu di Okinawa, Jepang, menjadi perhatian setelah pengalaman studi banding bersama petani tebu dari Jawa Timur pada 2009.

Dalam kunjungan tersebut, terlihat tanaman tebu tetap tumbuh di antara gedung, rumah penduduk, dan kawasan perkotaan yang padat.

Kondisi itu menjadi pengalaman menarik karena menunjukkan bahwa keberadaan tanaman tebu tidak selalu bergantung pada luasnya lahan.

Keberlangsungan komoditas tersebut disebut berkaitan erat dengan kebijakan pemerintah yang memberikan perlindungan kepada petani dan industri gula.

Okinawa menjadi salah satu wilayah penting dalam produksi gula Jepang dengan kontribusi sekitar 60 persen dari total produksi gula nasional.

Sementara itu, sekitar 40 persen produksi gula Jepang lainnya berasal dari wilayah Kagoshima.

Meski produksi gula Jepang hanya memenuhi sekitar 2–3 persen kebutuhan konsumsi nasional, pemerintah tetap mempertahankan industri tebu agar tidak hilang.

Sejak diberlakukannya Sugar Price Stabilization Law pada 1965, Jepang menjalankan sistem perlindungan terhadap petani tebu dan industri gula.

Melalui sistem tersebut, harga tebu dijamin pemerintah agar petani tetap memperoleh keuntungan ketika harga gula dunia mengalami penurunan.

Selain itu, pemerintah Jepang juga memberikan dukungan subsidi kepada petani dan pabrik gula.

Pabrik gula di Okinawa mendapatkan dukungan untuk menjaga kemampuan membeli tebu petani dengan harga yang tetap tinggi.

Petani juga memperoleh bantuan untuk kebutuhan produksi seperti benih, pupuk, dan irigasi.

Pemerintah Jepang turut menerapkan levy atau pungutan tambahan terhadap gula impor untuk mendukung pembiayaan industri gula dalam negeri.

Dana dari pungutan tersebut digunakan untuk mendukung subsidi, penelitian, dan pengembangan industri lokal.

Industri tebu di Okinawa juga tidak hanya bergantung pada produksi gula karena dikembangkan melalui diversifikasi produk.

Tebu dimanfaatkan untuk berbagai produk seperti bioetanol, rum, dan pakan ternak agar industri tetap bertahan menghadapi perubahan permintaan.

Pengalaman dari Okinawa kemudian menjadi bahan pembelajaran dalam melihat kebijakan pengembangan tebu di Indonesia.

Setelah kembali dari Jepang, gagasan mengenai sistem perlindungan industri gula tersebut beberapa kali disampaikan kepada pemangku kebijakan di Indonesia.

Usulan tersebut disebut telah didengar dan dicatat dalam beberapa pertemuan, tetapi belum mendapatkan tindak lanjut yang lebih jauh.

Model Jepang dinilai membutuhkan dukungan anggaran besar sehingga dianggap memiliki tantangan untuk diterapkan secara langsung di Indonesia.

Namun, pelajaran utama dari Jepang bukan hanya mengenai besaran subsidi, melainkan konsistensi kebijakan dalam melindungi petani dan industri dalam negeri.

Okinawa menunjukkan bahwa sektor pertanian tetap dapat bertahan di tengah perkembangan kawasan perkotaan.

Keberadaan tebu di antara bangunan modern menjadi gambaran pentingnya kebijakan yang berpihak dan berkelanjutan.

Indonesia memiliki potensi industri tebu yang lebih besar dibandingkan Okinawa dengan dukungan lahan dan sumber daya yang luas.

Tantangannya adalah bagaimana menciptakan kebijakan yang mampu menjaga keberlangsungan petani tebu dan industri gula nasional.

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.