Tandaglobal.news | SITUBONDO — Di balik gemuruh mesin uap dan manisnya produksi gula, Pabrik Gula (PG) Olean, Situbondo, menyimpan kisah mengenai batas-batas sosial yang tidak tertulis pada masa kolonial Belanda.
Pada 1924, pekerja pribumi dan staf Eropa menjalankan aktivitas di lingkungan pabrik yang sama.
Namun, keduanya dipisahkan oleh kebiasaan dan aturan sosial yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
PG Olean ketika itu dikelola oleh perusahaan swasta Belanda sebagai bagian dari berkembangnya industri gula di wilayah timur Pulau Jawa.
Pabrik tersebut dipimpin oleh Administrateur Rudolf van der Veen bersama Ingenieur Arend Vos.
Ratusan pekerja pribumi mengoperasikan mesin dan menjalankan berbagai tahapan produksi gula.
Salah seorang di antaranya adalah Misdowi yang dikenal sebagai mandor senior dengan kemampuan teknis yang tinggi.
Meski tidak terdapat peraturan resmi mengenai pemisahan berdasarkan ras, praktik tersebut berlangsung dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan pabrik.
Staf Eropa menggunakan pintu utama dan berbagai fasilitas yang berada di sekitar kantor administrasi.
Sementara itu, pekerja pribumi harus memasuki area pabrik melalui pintu samping yang berada di dekat gudang gula.
Penggunaan toilet juga berlangsung secara terpisah meski tidak pernah diatur secara tertulis.
Situasi itu mencerminkan stratifikasi sosial yang lazim diterapkan di banyak perusahaan kolonial pada awal abad ke-20.
Ketegangan muncul ketika tekanan ketel uap hampir melewati batas aman saat proses produksi berlangsung.
Misdowi berusaha memasuki ruang kontrol untuk melaporkan kondisi tersebut kepada para staf yang bertugas.
Namun, langkahnya sempat dihalangi karena ruang kontrol hanya diperuntukkan bagi staf Eropa.
Keadaan berubah setelah Ingenieur Arend Vos mempersilakan Misdowi masuk karena menilai dirinya lebih memahami kondisi mesin yang sedang bermasalah.
Keputusan tersebut memungkinkan penanganan dilakukan lebih cepat demi menjaga keselamatan operasional pabrik.
Peristiwa itu kemudian menjadi titik balik dalam hubungan kerja di lingkungan PG Olean.
Keesokan harinya, Misdowi dipanggil oleh administratur untuk diingatkan mengenai “tata krama” yang berlaku di lingkungan pabrik.
Misdowi menegaskan bahwa keselamatan pabrik harus lebih diutamakan daripada sekat sosial yang menghambat komunikasi teknis.
Laporan internal perusahaan menyebutkan bahwa tidak terjadi konflik terbuka setelah peristiwa tersebut.
Namun, laporan itu juga mencatat bahwa jarak sosial telah menjadi penghalang bagi kerja sama teknis di lingkungan pabrik.
Sejak saat itu, Misdowi diberikan kewenangan memasuki ruang kontrol ketika terjadi keadaan darurat.
Ia juga mulai dilibatkan dalam pelatihan teknis sebagai mandor utama.
Kisah PG Olean menunjukkan bahwa di balik kejayaan industri gula kolonial, terdapat realitas ketimpangan sosial yang dialami para pekerja pribumi.
Perubahan memang berlangsung secara bertahap.
Namun, peristiwa tersebut menjadi salah satu penanda mulai retaknya sekat-sekat sosial yang selama bertahun-tahun membatasi hubungan antara pekerja pribumi dan kalangan Eropa di lingkungan pabrik.
Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.




















Tinggalkan Balasan