Tandaglobal.news | Kediri — Pada Juni 1934, musim giling tiba di Pabrik Gula Pesantren Kediri ketika sebuah keluarga Belanda menghadapi situasi genting setelah kehilangan seorang ibu.

Di sekitar pabrik, aroma manis tebu yang diolah bercampur dengan asap lokomotif yang membawa suasana khas perkebunan gula masa kolonial.

Dari sebuah rumah besar bergaya Indische, terdengar tangisan bayi bernama Willem van der Berg yang baru kehilangan ibunya.

Tiga hari setelah Willem lahir, sang bunda, Nyonya Clara, meninggal dunia dan meninggalkan bayi yang masih membutuhkan air susu ibu.

Kondisi Willem semakin memburuk karena tubuhnya tidak dapat menerima susu sapi yang diberikan kepadanya.

Pipinya yang semula kemerahan berubah pucat, sementara tubuh kecilnya mengalami demam dan menggigil.

Seorang dokter Belanda kemudian menyampaikan bahwa Willem membutuhkan air susu ibu, bukan susu kental manis.

Dalam keadaan putus asa, kabar disebarkan ke kampung untuk mencari perempuan yang baru melahirkan dan masih memiliki persediaan air susu.

Sebagai imbalan, perempuan yang bersedia menyusui Willem akan menerima upah satu gulden per hari.

Siti Aisyah kemudian menjawab panggilan tersebut meski hatinya masih menyimpan duka karena baru kehilangan bayinya sendiri.

Dua pekan sebelumnya, ia telah menguburkan seorang bayi laki-laki yang belum sempat diberi nama.

Suaminya, Tukimin, seorang buruh tebang tebu, menerima keputusan itu dengan pasrah.

“Ambil saja, Yu. Bayi kita sudah tenang di surga. Barangkali ini adalah cara Gusti Allah mengirim rezeki pengganti,” bisiknya.

Saat memasuki rumah besar tersebut, Aisyah mendapat perlakuan dari Nyonya Administratur, bibi dari almarhumah Clara, yang meminta dirinya menjaga kebersihan sebelum menyusui Willem.

“Bersihkan dirimu lebih dulu. Jangan sampai ada bau keringat yang melekat,” perintahnya singkat.

Sejak saat itu, setiap subuh pukul lima, Aisyah datang ke rumah besar tersebut untuk menyusui Willem.

Ia mandi di kamar pembantu, menggunakan sabun Lifebuoy, lalu mengenakan daster bersih yang telah disediakan.

Di kamar bayi, Aisyah mendekap Willem di atas kursi goyang kayu jati sambil memberikan air susunya.

Ketika Willem pertama kali menyusu, Aisyah menangis karena teringat anak kandungnya yang telah pergi.

Ia juga merasakan haru karena dapat memberikan kehidupan kepada bayi yang kehilangan ibunya.

“Maafkan Ibu, Nak… Ibu kandungmu tak bisa menyusuimu, biarlah aku yang menggantikannya,” lirihnya dalam hati.

Seiring waktu, Willem tumbuh semakin sehat dan mengenali aroma serta sentuhan Aisyah.

Bayi itu sering menangis ketika berada dalam pelukan orang lain, tetapi menjadi tenang saat bersama Aisyah.

Setiap sore sebelum pulang, Aisyah menerima sekeping gulden perak sebagai upah dari pekerjaannya.

Uang tersebut ia simpan di ujung kain jarik dan tidak pernah ditanyakan oleh Tukimin.

Tukimin memahami bahwa sebagian uang itu ditabung istrinya untuk membeli kain batik sebagai persiapan bagi adik perempuannya yang akan dilamar.

Pada suatu senja, Aisyah terlambat pulang karena Willem mengalami demam dan tidak ingin lepas dari dekapan ibu susunya.

Nyonya Administratur kemudian memasuki kamar dan melihat Aisyah tetap setia menjaga Willem.

“Terima kasih, Aisyah,” ucap Nyonya itu dalam bahasa Melayu yang terbata dengan aksen Belanda.

“Kau telah menyelamatkan nyawa anak kami.”

Aisyah hanya mengangguk karena merasa sulit mengungkapkan perasaannya atas penghargaan tersebut.

Ketika Willem berusia satu tahun dan telah berhenti menyusu, Nyonya Administratur memberikan sebuah amplop tebal dan kalung emas kecil bertali merah.

Pada liontin kalung tersebut terukir dua kata dalam bahasa Belanda, “Dank je,” yang berarti terima kasih.

“Pakailah ini jika kelak kau dikaruniai anak lagi,” ujar Nyonya itu.

“Agar kau selalu ingat, bahwa air susumu pernah menyelamatkan seorang anak.”

Aisyah membawa kalung tersebut pulang, tetapi tidak pernah mengenakannya.

Kalung itu disimpan dalam ruas bambu, dibungkus kain mori putih, hingga kemudian diwariskan kepada cucunya.

Kisah Aisyah kemudian dikenang oleh masyarakat kampung sebagai cerita tentang seorang perempuan Jawa yang tetap menjaga kasih sayang meski melewati kehidupan yang penuh kehilangan.

Di rumah besar yang berada di kompleks PG Pesantren, disebutkan terdapat sebuah foto lama yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa berkebaya putih menggendong bayi berkulit putih di atas kursi goyang jati.

Di balik foto tersebut tertulis kalimat, “Willem dan Ibu Susu-nya, 1934-1935.”

Catatan Redaksi: Artikel ini merupakan adaptasi dari naskah yang sumbernya tercantum pada metadata artikel dan telah dipublikasikan kembali dengan izin penulis.