Tandaglobal.news | Kediri — Di balik berdirinya kompleks Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Kediri yang kini mulai digunakan ratusan siswa, terdapat proses pembangunan berskala besar yang diselesaikan hanya dalam waktu sekitar tujuh bulan. Proyek tersebut melibatkan hampir 2.000 tenaga kerja serta menghadapi tantangan besar dalam penyediaan material akibat padatnya proyek konstruksi di berbagai daerah.

PT Nindya Karya selaku pelaksana proyek memastikan seluruh pekerjaan konstruksi utama telah rampung 100 persen. Saat ini proyek memasuki masa pemeliharaan sekaligus penyempurnaan sejumlah detail bangunan sebelum seluruh fasilitas beroperasi secara penuh.

Site Operational Manager PT Nindya Karya, Marantika Sugiarto, menjelaskan bahwa secara kontraktual pembangunan dimulai pada 15 Desember 2025. Namun, pekerjaan konstruksi secara efektif baru berlangsung penuh pada Januari 2026 setelah proses pembersihan lahan, identifikasi kondisi tanah, serta pekerjaan awal lainnya selesai dilakukan.

“Secara kontrak kami mulai 15 Desember 2025. Namun pekerjaan efektif berjalan penuh pada Januari dan saat ini proyek sudah selesai serta mulai dimanfaatkan oleh siswa,” ujarnya saat ditemui di lokasi proyek.

Kompleks Sekolah Rakyat yang dibangun di Kecamatan Plosoklaten dilengkapi berbagai fasilitas penunjang pendidikan berasrama. Fasilitas tersebut meliputi delapan gedung asrama, tiga kantin, tiga gedung sekolah, gedung serbaguna, masjid, rumah pompa, power house, gudang, tempat pembuangan sampah (TPS), gardu PLN, pos keamanan, dua lapangan basket, hingga lapangan sepak bola yang dilengkapi jogging track.

Marantika mengungkapkan, berdasarkan data induksi pekerja, hampir 2.000 orang pernah terlibat selama proses pembangunan. Karena pekerjaan dilakukan secara bertahap, jumlah tenaga kerja yang berada di lokasi terus berubah. Pada masa puncak pembangunan, sekitar 1.100 pekerja bekerja secara bersamaan untuk mengejar target penyelesaian proyek.

Selain mendatangkan tenaga kerja dari berbagai daerah, perusahaan juga memberdayakan masyarakat sekitar. Lebih dari 20 persen pekerja berasal dari Kabupaten Kediri. PT Nindya Karya juga bekerja sama dengan toko bangunan lokal untuk memenuhi kebutuhan material pendukung maupun peralatan kerja sehingga aktivitas ekonomi masyarakat sekitar ikut bergerak.

Sementara itu, Operational Manager PT Nindya Karya, Eko Prasetyo, menyebut tantangan terbesar selama pembangunan bukan berasal dari proses konstruksi, melainkan ketersediaan material. Menurutnya, banyaknya proyek pembangunan yang berlangsung bersamaan membuat pasokan bahan bangunan harus bersaing dengan kebutuhan proyek lain di berbagai wilayah.

“Kendala terbesar ada pada material. Saat proyek berjalan, banyak pembangunan berlangsung bersamaan sehingga terjadi persaingan mendapatkan material. Ditambah kondisi geopolitik yang menyebabkan harga bahan baku, bahan bakar, dan biaya distribusi meningkat,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi kendala tersebut, tim proyek melakukan evaluasi setiap hari serta menerapkan berbagai langkah mitigasi, mulai dari penambahan armada pengangkut hingga pengaturan ulang distribusi material agar proses pembangunan tidak mengalami keterlambatan.

“Setiap hari kami melakukan evaluasi. Kalau ada kendala langsung dimitigasi. Dengan penambahan kendaraan operasional dan pengaturan distribusi material, target pembangunan akhirnya tetap bisa tercapai,” ujar Eko.

Ia menambahkan, selama proses pembangunan PT Nindya Karya menerapkan manajemen konstruksi secara terintegrasi yang mencakup pengelolaan sumber daya manusia, peralatan, material, metode kerja, waktu, hingga pembiayaan. Pendekatan tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga percepatan pembangunan meski sempat menghadapi berbagai penyesuaian jadwal.

Menurut Eko, target penyelesaian proyek memang cukup menantang. Namun seluruh fasilitas utama akhirnya berhasil disiapkan sebelum pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), sehingga aktivitas belajar para siswa dapat dimulai sesuai rencana.

“Target percepatan yang diberikan memang cukup menantang. Namun yang terpenting seluruh fasilitas utama sudah siap digunakan sehingga kegiatan MPLS dan operasional sekolah dapat berjalan tanpa gangguan,” katanya.

Kini, setelah bangunan mulai dihuni para siswa, PT Nindya Karya berharap Sekolah Rakyat dapat menjadi sarana pendidikan yang memberi manfaat jangka panjang bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

“Kami bahagia karena bangunan yang kami kerjakan sudah mulai dimanfaatkan oleh anak-anak yang membutuhkan. Harapannya fasilitas ini bisa dirawat dengan baik dan menjadi tempat lahirnya generasi yang siap menghadapi masa depan, tidak hanya secara akademik tetapi juga secara mental, disiplin, dan karakter,” pungkas Eko.


Jurnalis: Wildan Wahid Hasyim