


KEDIRI, Tandaglobal.news — Kemarau panjang di Desa Kebonrejo, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, membuat petani menghadapi persoalan berlapis. Selain menunggu hujan yang belum kunjung turun, mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air demi menjaga tanaman tetap hidup.
Misaji (64), petani asal Desa Kebonrejo, mengatakan kekeringan mulai terasa sejak pertengahan tahun.
Memasuki Agustus hingga September, kondisi lahan semakin kering, sementara hujan yang biasanya diharapkan mulai turun pada September belum juga datang.
Kondisi tersebut mengganggu jadwal tanam petani. Sebagian memilih menunggu hujan, sedangkan petani yang tidak ingin terlalu lama menunda harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.
“Biasanya bulan tujuh sudah mulai menanam, lalu bulan sembilan sudah turun hujan. Sekarang hujan belum datang sampai saat ini,” ujar Misaji, Selasa (27/10/2026).
Menurutnya, petani yang tidak sabar menunggu hujan terpaksa membeli air dari wilayah bawah, di antaranya kawasan Mulyorejo. Air tersebut digunakan untuk menyirami tanaman yang mulai kekurangan pasokan.
Kebutuhan air pun tidak sedikit. Tanaman yang masih kecil membutuhkan penyiraman berulang, sedangkan tanaman yang sudah layu harus segera mendapat air agar kondisinya tidak semakin memburuk.
Misaji menyebut kondisi tahun ini lebih berat dibandingkan kemarau sebelumnya.
Pada tahun lalu, kekeringan hanya berlangsung sebentar sehingga petani tidak terlalu terbebani oleh kebutuhan air tambahan.
“Keluhannya berat sekali. Air untuk kebutuhan sehari-hari saja sudah sulit, apalagi harus dibawa ke lahan pertanian. Airnya tidak mencukupi,” tuturnya.
Persoalan air tersebut semakin menekan petani karena biaya produksi juga meningkat. Misaji mengatakan harga obat-obatan pertanian dan kebutuhan lainnya semakin mahal, sementara hasil pertanian belum tentu memberikan keuntungan yang sebanding.
Ia berharap harga hasil panen dapat memberikan penghasilan yang cukup untuk menutup biaya produksi, termasuk pengeluaran tambahan selama musim kering.
Keluhan serupa disampaikan Supriyono (52), yang akrab dipanggil Nonot. Ia mengatakan petani di wilayahnya juga harus menghadapi ketidakpastian pasokan air selama kemarau panjang.
Menurut Nonot, pembelian air untuk lahan pertanian sudah menjadi pilihan bagi petani yang tidak memiliki cukup pasokan.
Sementara itu, petani yang masih bisa menunggu hujan berusaha menunda pengeluaran tambahan agar biaya produksi tidak semakin besar.
Kondisi tersebut membuat petani harus mempertimbangkan kemampuan modal sebelum memutuskan melanjutkan penanaman. Sebab, biaya membeli air harus diperhitungkan bersama pengeluaran untuk pupuk, obat-obatan, dan kebutuhan pertanian lainnya.
Bagi petani, persoalan bukan sekadar tanaman bisa disiram, melainkan apakah biaya yang dikeluarkan nantinya sebanding dengan hasil panen.
Ketika pengeluaran meningkat, harga jual hasil pertanian menjadi semakin penting untuk menjaga pendapatan mereka.
Kemarau panjang di Kebonrejo tidak hanya menghambat aktivitas tanam, tetapi juga menambah risiko ekonomi bagi petani.
Mereka berharap hujan segera turun dan ketersediaan air kembali membaik agar kegiatan pertanian dapat berjalan normal.


















Tinggalkan Balasan