


KEDIRI, Tandaglobal.news — Hamparan sawah mengelilingi Situs Semen di Desa Semen, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Di tengah lahan pertanian tersebut, sejumlah benda purbakala ditemukan, mulai dari dua jaladwara atau saluran air, arca Garuda Wisnu, Lingga-Yoni, hingga fragmen gerabah dan tembikar. Temuan itu menjadi petunjuk aktivitas masyarakat pada masa lampau yang diperkirakan berkaitan dengan periode Kerajaan Kadhiri.
Imam Achfas, juru pelihara Situs Semen, menyebut luas kawasan situs diperkirakan mencapai 10 hektare. Perkiraan tersebut mengacu pada hasil penelitian Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan.
“Kawasan ini bisa jadi perkampungan, atau bisa juga perumahan para petinggi-petinggi kerajaan,” kata Imam, Jumat (23/10/2026).
Menurut Imam, hasil penelitian arkeologi mengidentifikasi Situs Semen sebagai petirtaan, yakni tempat pemandian yang diperkirakan diperuntukkan bagi kalangan bangsawan. Dalam tradisi Jawa, bangunan semacam ini dikenal sebagai patirtan.
Salah satu petunjuk yang mendukung dugaan tersebut adalah temuan Jaladwara Narasinga, saluran air dengan bentuk menyerupai perpaduan kepala naga dan singa. Selain itu, keberadaan arca Garuda Wisnu, Lingga-Yoni, serta pecahan gerabah dan tembikar menambah jejak arkeologis yang tersimpan di kawasan tersebut.
Meski demikian, bentuk bangunan petirtaan secara keseluruhan belum diketahui.
Sebagian struktur diduga masih tertimbun tanah sehingga penelitian yang telah dilakukan belum sepenuhnya mengungkap susunan bangunan kuno di lokasi itu.
Situs Semen sendiri telah ditemukan sejak 1971.
Namun, penggalian lanjutan membutuhkan biaya besar. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala untuk mengungkap lebih jauh struktur arkeologis yang kemungkinan masih tersimpan di bawah permukaan tanah.
Perubahan bentang alam selama berabad-abad juga diduga memengaruhi kondisi peninggalan kuno di kawasan tersebut. Aktivitas vulkanik Gunung Kelud berpotensi menimbun sebagian peninggalan, sementara perubahan aliran sungai, sedimentasi, dan aktivitas manusia dapat mengubah atau menutupi struktur bangunan lama.
Di tengah temuan arkeologis itu, berkembang pula cerita tutur masyarakat yang menghubungkan Situs Semen dengan Raja Airlangga.
Namun, hubungan tersebut belum dapat dipastikan karena belum ditemukan prasasti atau bukti tertulis yang secara langsung menguatkannya.
Keberadaan Situs Semen menjadi bagian dari potensi peninggalan sejarah di Kabupaten Kediri yang masih menyimpan sejumlah pertanyaan.
Penelitian dan penggalian lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap fungsi kawasan, bentuk bangunan, serta kehidupan masyarakat yang pernah beraktivitas di lokasi tersebut.



















Tinggalkan Balasan