
KEDIRI, Tandaglobal.news — Penjualan madu di Kampung Madu, Purworejo, Desa Bringin, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri, mengalami penurunan. Peternak lebah setempat menghadapi persaingan produk berharga murah di media sosial, sementara daya beli masyarakat belum cukup kuat untuk mendorong kenaikan harga madu. Kondisi tersebut membuat peternak harus mempertahankan pelanggan agar usaha tetap berjalan, Jumat (16/10/2026).
Nurhadi (54), peternak lebah yang telah menjalankan usaha sejak 2004, mengatakan penjualan madu saat ini tidak menentu.
Dalam sehari, madu terkadang terjual satu hingga dua kemasan, tetapi pada waktu lain tidak ada pembeli sama sekali.
Kondisi tersebut berbeda dengan masa pandemi Covid-19, ketika permintaan madu meningkat. Saat itu, pembeli datang langsung ke rumah maupun melakukan pemesanan secara daring.
“Sekarang penjualan lesu. Kadang sehari laku satu atau dua, tetapi kadang tidak ada yang membeli. Kondisinya tidak stabil,” ujar Nurhadi.
Ia menjelaskan, harga madu yang sebelumnya sempat mencapai Rp100 ribu saat pandemi kini kembali dipatok sekitar Rp90 ribu.
Nurhadi memilih menyesuaikan harga dengan kondisi ekonomi masyarakat agar madu hasil produksinya tetap dapat terjual.
Persaingan juga datang dari produk madu yang ditawarkan melalui media sosial dengan harga sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu.
Nurhadi memilih mempertahankan pelanggan lama dan melayani pembelian langsung dari rumah karena belum mampu bersaing secara maksimal dalam pemasaran daring.
Wanto menilai persaingan penjualan madu semakin terasa seiring banyaknya produk yang ditawarkan melalui media sosial dengan harga relatif murah.
Kondisi tersebut membuat peternak perlu menjaga kepercayaan pelanggan agar penjualan tetap berjalan.
“Sekarang pilihan madu semakin banyak dan harganya beragam. Kami harus menjaga kepercayaan pelanggan supaya mereka tetap membeli madu dari peternak,” ujar Wanto.
Sementara itu, Yun juga mengeluhkan penjualan madu yang belum stabil.
Kondisi tersebut membuat peternak harus menyesuaikan strategi penjualan dengan daya beli masyarakat dan kemampuan produksi yang tersedia.
“Penjualan sekarang tidak selalu ramai. Kami berharap masyarakat semakin memahami madu yang dibeli sehingga usaha peternak lokal bisa terus bertahan,” ungkap Yun.
Selain persoalan pemasaran, peternak berharap masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai madu asli.
Nurhadi mengatakan madu memiliki karakteristik berbeda bergantung pada sumber bunga, mulai dari rasa, aroma, hingga warna.
“Harapan saya sederhana, pemerintah bisa melakukan sosialisasi tentang madu asli sehingga peternak yang menghasilkan madu alami juga bisa terangkat,” katanya.
Untuk memperoleh jenis madu tertentu, peternak harus memindahkan koloni lebah ke daerah yang memiliki tanaman berbunga sesuai musimnya. Langkah tersebut membutuhkan biaya operasional, sedangkan perubahan cuaca dapat memperpendek masa panen dan mengurangi hasil produksi.
Nurhadi memilih tetap menjual madu hasil panen sendiri tanpa pengolahan tambahan. Ia berharap edukasi kepada konsumen dapat membantu masyarakat lebih cermat memilih produk sekaligus mendukung keberlangsungan usaha peternak madu di Kabupaten Kediri.



















Tinggalkan Balasan